Main Menu

Upaya BKP Menjaga Stok dan Stabilitas Harga Beras

Fatma
23-03-2018 18:55

Jakarta, Gatra.com - Para petani saat ini sedang melakukan panen raya padi. Panen raya secara nasional diperkirakan berakhir pada Mei 2018 dengan target beras yang terserap sebanyak 87 juta ton. Angka ini meningkat dari realisasi target tahun 2017 yang sebanyak 81,56 juta ton.

Setiap penen raya, para petani khawatir harga gabahnya akan turun. Karena itulah, pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI berupaya untuk menjaga stabilitas harga gabah, sekaligus menjamin ketersediaannya bagi masyarakat konsumen.

Dalam upaya menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan stok beras untuk masyarakat, Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan (BKP) menjalankan sebuah program bernama Serap Gabag (Sergab). Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi, mengatakan  bahwa untuk memastikan program Serap Gabah ini berjalan sesuai dengan target, Kementerian Pertanian telah menjalin kerjasama dengan beberapa pihak.

Kerjasama itu dilaksanakan dengan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Direktur Utama Perum Bulog, Direktur Utama PT. BRI (Persero) Tbk., dan Kepala Staf Angkatan Darat. Penandatanganan kerjasama dilakukan pada tanggal 5 Februari 2018 di Kementerian Pertanian, Jakarta. “Kerjasama ini bertujuan untuk menyukseskan berbagai kebijakan dan melaksanakan program penyediaan infrastruktur pertanian, membangun sistem produksi, penanganan pasca panen, pengolahan hasil, distribusi dan tata niaga pangan,” kata Agung Hendriadi.

Agung mengatakan bahwa program Sergab dilaksanakan untuk memastikan petani untung dan stok beras untuk masyarakat mencukupi. “Kita juga berusaha mempertahankan agar harga beras tidak turun drastis walaupun sedang panen raya,” kata Agung. Saat ini harga beras di tingkat petani berkisar mulai dari Rp 4.400 per kilogram hingga Rp 5.000 per kilogram. Ada juga yang bahkan melampaui Rp 5.000 per kilogram.

Agung Hendriadi memaparkan bahwa salah satu upaya BKP untuk mempertahankan harga beras adalah dibuatnya lumbung padi untuk kelompok tani di daerah sehingga petani bisa mengatur penjualan gabahnya. “Pada saat harga dianggap rendah, petani bisa menahan penjualan dan menyimpan gabahnya di lumbung, sambil menunggu harga membaik,” kata Agung.    

Dengan sistem lumbung ini, para petani juga tak akan kesulitan mendapatkan gabah ketika mereka membutuhkannya, misalnya ketika mereka memerlukan gabah untuk bibit. “Mereka tidak harus membeli dengan uang, melainkan dengan gabah lagi pada musim panen berikutnya,” tutur Agung. Dengan demikian, para petani bisa mengelola gabahnya dengan baik sehingga bisa mengatur penjualan dan pemakaiannya dengan bijak, sekaligus bisa ikut menjaga stabilitas harga gabah di pasaran.

Fatma
23-03-2018 18:55