Main Menu

Progam Kawasan Rumah Pangan Lestari untuk Pengentasan Wilayah Rentan Pangan

Fatma
28-03-2018 13:30


Jakarta, Gatra.com - Padat karya menjadi salah satu solusi penciptaan lapangan kerja di desa.

Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, peciptaan lapangan kerja di desa dioptimalkan dengan padat karya. Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Ketahan Pangan (BPK) mencoba melibatkan masyarakat untuk melakukan swakelola jaringan irigasi di pedesaan.

“Sudah 3 tahun belakangan ini perbaikan dan perawatan infrastruktur pertanian dilaksanakan secara padat karya. Contohnya perbaikan saluran irigasi,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, di Kementerian Pertanian Jakarta Selatan, Kamis (22/3).

Padat karya dilakukan di daerah-daerah rentan rawan pangan. Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari Kementerian Pertanian karena dianggap sebagai daerah yang kerap terjadi kerawanan pangan, yang biasanya diikuti oleh kasus-kasus stunting. Stunting adalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Agung mengatakan bahwa target padat karya ini adalah 1.000 Desa di 100 Kabupaten di seluruh Indonesia.

Dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan stunting ini, BKP mempunyai fokus kegiatan di tahun 2018 yaitu pengentasan wilayah rentan pangan, gerakan diversifikasi pangan, distribusi pengendalian harga dan keamanan pangan. Selain itu juga terus melakukan analisa, kajian dan kebijakan dengan membuat program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Untuk beberapa wilayah yang memiliki keterbatasan lahan, BKP menjalankan program KRPL yang bertujuan agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Beberapa hal yang dilakukan untuk menyukseskan KRPL ini adalah dengan memaksimalkan manfaat pekarangan menjadi sumber pangan dan gizi keluarga serta pendapatan kedepannya.

Angung mengatakan, “Jika setiap warga mampu memenuhi kebutuhan pangan langsung dari pekarangannya, mereka bisa lakukan penghematan yang signifikan dan tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.”
Menurut Agung, nantinya masyarakat diharapkan bukan sebatas bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarganya, tapi juga bisa memproduksi pangan untuk dijual sehingga mempunyai nilai ekonomi dan menjadi pemasukan tambahan untuk keluarga.

Sasaran program KRPL adalah ibu-ibu atau warga yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Jumlah kelompok yang menjadi sasaran ini sebanyak 2.300 kelompok di mana masing-masing kelompok beranggotakan minimal 30 rumah tangga. BKP membantu mereka dalam bentuk pemberian modal dan pengawasan serta penyuluhan kepada setiap kelompok warga. Diharapkan dengan berjalannya program ini, akan banyak warga yang ikut berperan aktif mulai dari swakelola infrastuktur pertanian sampai ke pemenuhan kebutuhan pangan sendiri, sehingga masyakarat tidak hanya sebatas mampu memenuhi kebutuhan gizinya, tapi juga berpenghasilan.

 

Fatma
28-03-2018 13:30