Main Menu

Pengamat: BUMN Khusus Justru Beri Keleluasan Mafia

Iwan Sutiawan
12-06-2015 00:41

Jakarta, GATRAnews - Pengamat geopolitik dan ekonomi energi, Hendrajit, di Jakarta, Kamis (11/6), mengatakan, rencana pembentukan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Khusus hanya memberikan keleluasan bagi mafia migas.

Menurut Hendrajit, menjadikan SKK Migas sebagai BUMN Khusus membuat mafia migas kian leluasa karena otomatis badan ini berperan sebagai regulator sekaligus operator, sehingga harus dihentikan.

"Harus dibatalkan! Karena hanya akan memberi ruang gerak yang lebih leluasa kepada mafia migas. Dengan adanya BUMN Khusus, pemerintah seolah-olah memberi karpet merah kepada para mafia. Mereka akan menjadi sebuah imperium dalam memutuskan deal-deal migas," ujar Hendrajit.

Direktur Global Future Institute (GFI) ini mencurigai pemberian peran ganda, karena bagaimana mungkin satu lembaga kepanjangan tangan pemerintah menjadi regulator sekaligus operator.

Peran tersebut akan menyuburkan mafia migas dan berbagai kongkalikong terstruktur yang merugikan keuangan negara puluhan juta dolar AS. "Di antaranya, dengan semakin membuka pintu bagi kontrak-kontrak asing dan menguatkan tirani swasta," katanya.

Selain menyuburkan praktek di atas, menjadikan SKK Migas sebagai BUMN Khusus juga akan menimbulkan konflik kepentingan (conflict of interest). Rencana pembenukan BUMN Khusus sesui keinginan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) yang telah dibubarkan beberapa waktu lalu.

Hendrajit menambahkan, Faisal Basri sebagai Ketua Tim RTKM selalu menyuarakan agar tata kelola dilakukan melalui satu pintu. Alasannya, agar lebih efektif dan lebih terkontrol. "Faisal Basri tidak mengerti tentang migas. Dia tidak tahu, bahwa dengan menjadikan SKK Migas sebagai BUMN Khusus, justru memperkuat UU Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas yang notabene merupakan biang kekisruhan tata kelola migas di Tanah Air," ungkapnya.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

{jcomments on}

Iwan Sutiawan
12-06-2015 00:41