Main Menu

Kementan Dorong Petani Manfaatkan Rawa dan Lahan Kering Saat Kemarau

Iwan Sutiawan
04-09-2018 11:35

Ilustrasi (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong para petani memanfaatkan lahan rawa dan lahan kering untuk menanam padi pada musim kemarau. Imbauan ini disampaikan di tengah antusiasme petani tetap menanam padi demi menyediakan pangan dalam negeri.

 

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, bahwa luas lahan sawah di Indonesia mencapai 8.186.469 hektare. Pada saat musim kemarau, lahan sawah masih dapat tetap dioptimalkan untuk menanam komoditas pangan, namun perlu diimbangi dengan upaya untuk penyediaan air.

"Pada musim kemarau, produksi padi sawah dapat diantisipasi dengan memanfaatkan embung, bendungan, dan waduk. Selain itu, perbaikan sistem irigasi cukup bisa mengantisipasi dampak kekeringan," kata Sumarjo Gatot Irianto, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Senin (3/9).

Menurutnya, selama masih ada sumber air, menanam komoditas pangan di lahan sawah justru bisa meningkatkan kualitas produksi. Pasalnya, sinar matahari pada musim kemarau cukup panjang sehingga cukup baik untuk fotosintesis.

"Proses pengeringan juga lebih mudah dan menghemat biaya. Selain hasil yang lebih bagus, serangan hama penyakit relatif berkurang," kata Gatot.

Selain lahan sawah, Kementan juga mendorong petani untuk memanfaatkan lahan rawa yang pada musim kemarau biasanya akan surut. Menurut Gatot, lahan rawa sebagai lahan sub optimal memiliki potensi luas 12,3 juta hektare, namun pemanfaatannya belum optimal.

Dari potensi tersebut, lanjut Gatot, baru dimanfaatkan seluas 4.527.596 hektare (36,8%) untuk produksi pertanian. "Ini adalah kesempatan untuk penambahan luas areal tanam baru buat produksi padi di musim kemarau," ujarnya.

Tak mau ketinggalan dengan meningkatnya konsumsi pangan seiring pertambahan jumlah penduduk, Kementan juga berupaya keras memanfaatkan lahan kering. Luas lahan kering di Indonesia juga sangat besar, yakni 28.577.848 hektare termasuk ladang, tegalan, dan lahan yang tidak diusahakan menjadi Perluasan Areal tanam Baru (PATB).

Menurut Gatot, Kementan menjadikan pengembangan lahan kering sebagai fokus untuk pengembangan budidaya padi. Teknologinya pun sudah dipersiapkan, yakni dengan mendorong petani untuk menanam padi gogo.

Kementan untuk pertamakalinya dalam sejarah menargetkan pertanaman 1 juta hektare padi gogo pada tahun 2018. Pada musim kemarau, padi gogo di lahan kering dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hasil panen lebih bagus, hama lebih sedikit, hemat air, juga sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis dan kualitas gabah lebih baik.

"Selain padi gogo, lahan kering juga sangat cocok untuk ditanami jagung. Pada musim kemarau, jagung juga akan memberikan hasil yang bagus," kata Gatot.

Gatot juga menekankan, ketiga tipe lahan di atas dapat terus dioptimalkan untuk mendukung peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) dengan model tumpangsari, yaitu kombinasi antara padi, jagung, dan kedelai. Kunci utama tumpangsari ini yaitu penambahan populasi dan penggunaan benih berkualitas.

Menurutnya, dengan menggunakan konfigurasi jarak tanam yang tepat, 1 hektare lahan dapat menghasilkan 2 hektare jagung dan 1 hektare padi, 2 hektare jagung dan 1 hektare kedelai atau 1 hektare padi dan 1 hektare kedelai. Penanaman tumpangsari juga dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk.

Gatot menekankan, dengan pendekatan tumpangsari ini dapat mengeliminasi persaingan lahan antar komoditas dan juga dapat mengoptimalkan produksi padi tanpa tergantung musim. Lahan sawah beririgasi saatnya berproduksi maksimal, organisme pengganggu tumbuha (OPT) rendah, biaya produksi murah hasilnya maksimal dan harga gabahnya bagus.

"Kemarau juga saat ideal untuk memutus siklus OPT. Jadi kemarau bukan petaka tapi berkah. Kemarau dan musim hujan itu sudah Sunatullah. Semua membawa manfaat masing-masing," katanya.

Iwan Sutiawan
04-09-2018 11:35