Main Menu

Mantan Dirut Telkom Luncurkan Buku Cerita Dibalik IPO

didi
15-02-2018 21:52

Setyanto P. Santosa, mantan Dirut Telkom periode 1992-1996. (Dok. p2tel.or,id/FT02)

 

Jakarta, Gatra.com - Direktur Utama Telkom di periode 1992-1996 Setyanto P. Santosa meluncurkan buku berjudul “Untold Story IPO Telkom di NYSE & BEJ”. Buku tersebut menceritakan sejarah Telkom sebagai satu-satunya BUMN saat ini masih dual listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE). Setyanto menuturkan, dalam buku ini diungkapkan bahwa Telkom bisa dual listing melalui proses yang panjang dan berliku, bahkan hampir batal karena kekuatan politik saat itu. “Kejadian pembatalan itu, sempat membuat para petinggi Telkom kalang kabut san berupaya untuk mencegahnya,” kata Setyanto saat peluncuran bukunya di Jakarta, Kamis (15/2).

 

Jika pembatalan itu terjadi, menurutnya, bukan hanya merugikan Telkom, tetapi Indonesia sebagai bangsa karena reputasi tanah air akan hancur. Untuk mencegah pembatalan, kata Setyanto, dirinya melakukan lobby politik dengan menghubungi Menristek saat itu, BJ Habibie agar memberi penjelasan kepada Presiden Soeharto.

 

“Karena saat itu Presiden Soeharto sangat percaya dan mengikuti saran Habibie,” ujar Setyanto. Tentang hal itu, BJ Habibie dalam endorsement buku menyatakan memang meyakinkan Soeharto agar IPO Telkom tetap dijalankan. Upaya itu menurut Habibie tak sekadar menjadikan Telkom setara dengan perusahaan komunikasi kelas dunia, tetapi juga menghindari dari pengelolaan yang koruptif karena sifat perusahaan publik adalah disiplin, bersih, dan transparan.

 

Habibie mengungkapkan lebih lanjut, saat dirinya menjabat sebagai Presiden, ia merasakan manfaat dari IPO Telkom. “Telkom mendatangkan pemasukan negara sebesar Rp4,063 trilyun,” tuturnya. Direktur Utama Telkom, Alex Sinaga mengatakan, IPO Telkom 22 tahun lalu menjadi salah satu faktor perusahaan ini terus berkembang. “IPO menjadi momentum penting yang tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah Telkom,” ujar Alex.


Reporter: Didi Kurniawan

didi
15-02-2018 21:52