Main Menu

Mimpi Masa Depan Saudi Lewat NEOM

Birny Birdieni
15-03-2018 11:15

Mohammed bin Salman.(REUTERS/Hamad I Mohammed/re1)

Arab Saudi terus bersolek diri. Negara kerajaan yang berdiri sejak 1932 ini kini tampil lebih menghibur. Setidaknya tercatat 5.000 acara hiburan yang masuk agenda hiburan sepanjang tahun 2018. Satu di antaranya yang akan pentas adalah grup band Maroon 5. Sedangkan grup pentas hiburan asal Kanada, Cirque du Soleil, telah tampil sebelumnya pada Januari lalu.  


Tidak hanya itu, pembangunan rumah opera pertama di Arab Saudi telah dimulai di kota Laut Merah, Jeddah, atau pesisir barat kerajaan. Bulan depan rencananya akan dibangun bioskop pertama, setelah dilarang dalam 35 tahun terakhir. Proyek ambisius lainnya menyiapkan sebuah kota hiburan sebesar Las Vegas di dekat Riyadh. 


Kerajaan Monarki absolut itu siap menggelontorkan investasi senilai US$64 milyar atau sebesar Rp 875 trilyun untuk mengembangkan industri hiburan hingga dekade berikutnya. Sebuah perubahan mengarah ke hidup gaya Barat ini merupakan bagian dari program reformasi sosial dan ekonomi yang dikenal sebagai ''Vision 2030'', yang diresmikan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dua tahun lalu. 


Putra Mahkota berusia 32 tahun itu ingin melakukan diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan kerajaan pada minyak. Termasuk dengan meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk budaya dan hiburan. Pangeran yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan ini juga ingin Saudi menjadi negara Islam moderat, yang terbuka terhadap semua agama dan tradisi. 

 

''Sebanyak 70% populasi berusia di bawah 30 tahun, dan mereka ingin kehidupan beragama yang penuh tolerasi akan tradisi kebaikan kita,'' kata penerus Raja Salman itu seperti dikutip dari BBC. Berbeda dengan mahzab Arab Saudi selama ini yang dikenal sebagai Wahabi, yang perilaku dan gaya hidup serta busananya sangat Islami ketat dan konvensional. 


Visi Pangeran Mohammed ini secara luas dikenal dengan konsep NEOM alias Neo-Mustaqbal. Di mana neo berarti baru dan mustaqbal dari bahasa Arab yang berarti ''masa depan''. Jadi, NEOM adalah megaproyek ''Masa Depan Baru'' Arab Saudi yang berbatasan dengan Yordania dan Mesir. Kontrak awal proyek senilai US$ 500 milyar atau setara dengan Rp 6,809 trilyun ini sudah diteken pada 8 Februari lalu. 

 

Kontrak perdananya sudah dilakukan dengan perusahaan kontruksi lokal, Saudi Binladin Group. Namun beberapa perusahaan disebut-sebut sudah siap berinvestasi. Seperti halnya Softbank Jepang. Bahkan pembicaraan telah dilakukan antara Saudi dan Amazon, Alibaba, dan Airbus. ''Kami bicara dengan semua orang. Kami punya siapa-siapa saja di dunia yang berminat,'' kata Pangeran Mohammed dilansir dari Bloomberg. 

 

Di NEOM rencananya akan dibangun lima istana berlokasi sekitar 150 kilometer dari kota Tabuk. Dalam dokumen yang dilihat Reuters disebutkan, bangunan itu akan bergaya arsitektur tradisional Maroko berdesain Islam, dan berhiaskan keramik berwarna. Kompleks istana ini dilengkapi dengan sebuah marina dan lapangan golf. 

 

Dalam area kota ambisius seluas 26.500 kilometer persegi itu pun akan ada zona khusus untuk industri, termasuk bioteknologi, air, makanan, serta energi dan hiburan. Dengan didanai oleh kekayaan kedaulatan kerajaan, NEOM akan menjadi wilayah canggih dengan sumber energi alternatif lengkap dengan fitur pesawat tak berawak. Hingga mobil tanpa sopir dan robot bekerja serentak. 

 

NEOM diposisikan sebagai pembangunan masyarakat aspiratif yang menandai peradaban modern lewat arsitektur dan gaya hidup ramah lingkungan dengan teknologi tinggi. Namun editor opini Washington TimesCheryl K. Chumley lebih mempermasalahkan akan seperti apa konsep hukum yang dijalankan di NEOM. ''Apakah berbasis syariah?'' ia mempertanyakan. Karena jika iya, seperti Arab Saudi yang mengutamakan agama dan menomorduakan kebebasan hingga hak manusia, maka kota itu tidak akan menjadi tempat bagi semua orang. 

 

Bahkan, pandangan skeptis pun muncul dengan melihat proyek tersebut sebagai hal yang tidak realistis. Dilansir dari The New Arab, konsultan berbasis di London, Capital Economics, memperingatkan bahwa agenda itu mungkin tidak akan pernah terealisasi mengingat catatan buruk kerajaan pada proyek besar lain, yakni ''The King Abdullah Economic City'' atau KAEC. Kota baru dengan enam zona, yakni industri, pelabuhan laut, area tempat tinggal, resor di sisi laut, zona edukasi, dan kawasan pusat bisnis yang di dalamnya ada Pulau Finansial. Saat dirilis pada 2005 silam, proyek ini ditargetkan menyedot populasi hingga 2 juta orang namun kenyataannya per Maret 2016 lalu hanya 5.000 orang. 

 

Pangeran Mohammed membantah kekhawatiran tersebut. Dalam dokumen Vision 2030 yang dirilis April 2017 lalu, pemerintah berjanji untuk menyelamatkan kota-kota ekonomi yang tak menyadari potensinya. ''NEOM adalah cerita yang berbeda. Ada komitmen dari pemerintah, kami menempatkannya di baris pertama,'' katanya. 

 


Editor : Birny Birdieni 

Birny Birdieni
15-03-2018 11:15