Main Menu

Ramai Soal Cambridge Analytica, Apa Itu?

Basfin Siregar
20-03-2018 21:33

Tayangan investigasi Channel 4 pada 19 Maret 2018, memperlihatkan CEO Cambridge Analytica, Nix (kanan) dan Managing Director Mark Turnbull (tengah), menjelaskan taktik tercela perusahaan mereka memenangkan pemilu bagi klien (Gatra.com/dok.Channel4).

Cambrigde Analytica adalah nama sebuah perusahaan konsultan  yang berkantor pusat di Inggris. Mereka juga memiliki kantor cabang New York dan Washington. Perusahaan ini didirikan pada 2015 dan dipimpin oleh CEO Alexander Nix.

 

Mengapa Cambridge Analytica jadi ramai?
Pada 18 Maret 2018 lalu, Christopher Wylie, 28 tahun, seorang karyawan Cambridge Analytica memberi bocoran kepada dua koran internasional, The New York Times (AS) dan The Guardian/The Observer (Inggris).

Isi bocorannya mengejutkan: Cambridge Analytica (CA) sukses memanen 50 juta data pengguna Facebook dan dari situ mendesain program kampanye untuk memenangkan pemilu. Klien mereka termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta

 

Bagaimana Cambridge Analytica memanen data?
Pada 2014, sebuah perusahaan bernama Global Science Research (GSR) mendesain aplikasi Facebook bernama thisisyourdigitallife yang merupakan aplikasi tes kepribadian. Aplikasi ini tidak hanya menganalisis kepribadian peserta tes, tapi juga menyedot informasi tentang semua kawan Facebook peserta tes.

Sebanyak 50 juta data pengguna Facebook berhasil dipanen oleh GSR.

Menurut Wylie, GSR kemudian menjual data itu ke Cambridge Analytica sebagai basis untuk mendesain program kampanye politiik.

 

Respon Cambridge Analytica?
Cambridge Analytica membantah terlibat transaksi jual-beli data dengan GSR.

GSR membantah menjual data ke Cambridge Analytica

Facebook mem-blacklist Cambridge Analytica dan GSR dari platform mereka, sekaligus berkeras bahwa Facebook tidak melakukan kesalahan.

 

Kaitannya dengan Pemilu Kenya dan Pemilu AS?
Kemunculan Christopher Wylie sebagai whistleblower menjadi momentum bagi beberapa media yang diam-diam melakukan investigasi tentang Cambridge Analytica.

Salah satunya  Channel 4, stasiun televisi asal Inggris. Channel 4 ternyata sudah hampir setahun melakukan investigasi tentang perilaku bisnis Cambridge Analytica.

Sehari setelah kemunculan Christopher Wylie di The Guardian dan di The New York Times, Channel 4 menayangkan investigasi mereka tentang Cambridge Analytica.

Investigasi Channel 4 ditayangkan pada 19 Maret 2018, dan isinya lebih parah, karena menunjukkan taktik tak terpuji Cambridge Analytica dalam melakukan kampanye politik.

 

Apa isi investigasi Channel 4?
Seorang reporter Channel 4 menyamar sebagai tim sukses seorang kandidat asal Sri Lanka dan menemui eksekutif Cambridge Analytica untuk mendiskusikan kemungkinan bekerja sama.

Diskusi itu direkam dengan kamera tersembunyi. Pesertanya adalah CEO Cambridge Analytica, Alexander Nix, Managing Director perusahaan, Mark Turnbull, dan Kepala Data Perusahaan, Alex Tayler.

Dalam diskusi itu, para eksekutif Cambridge Analytica mengungkapkan bahwa mereka berpengalaman menjadi konsultan pemilu lebih dari 200 pemilu di seluruh dunia, di antaranya pemilu Kenya, pemilu Amerika Serikat, pemilu Republik Ceko, pemilu Malaysia, dan pemilu Argentina.

Nix menjelaskan bahwa kerja sama itu bersifat rahasia, karena para kandidat politik di berbagai negara itu sadar bahwa mereka akan kehilangan suara dari pemilih seandainya ketahuan bekerja sama dengan lembaga konsultan asing,

Mark Turnbull lalu mencontohkan bagaimana di Pemilu Kenya 2017 lalu, mereka berhasil membuat Presiden Uruha Kenyatta memiliki citra sangat positif sekaligus membuat citra lawan politiknya, Raila Odinga, jadi babak belur.

Mereka sukses mengkampanyekan misinformasi bahwa kubu Raila "bersimpati" pada kelompok teroris Al-Shahaab.

Nix, CEO Cambridge Analytica, lalu mencontohkan taktik lain yang biasa mereka lakukan, yaitu menjebak.

Modusnya, seorang dibayar perusahaaan untuk menyamar jadi pengusaha kaya raya lalu mendekati lawan politik klien dan menawarkan transaksi tidak etis, misalnya menawarkan banyak uang untuk kampanye dengan imbalan mendapat konsesi tanah.

Bila si lawan politik klien itu setuju, tamatlah dia. Karena semua transaksi itu direkam dengan kamera tersembunyi.

Selanjutnya tim Cambridge Analytica akan mengekspose perilaku bobrok kandidat tersebut ke internet dan mendesain kampanye untuk mempengaruhi pemilih.

Nix juga menjelaskan taktik lain seperti menjebak para lawan politik dengan jasa pekerja seks komersial (PSK) lalu direkam.

 

Respon Malaysia?
Cambridge Analytica mengatakan kalau juga sukses mempengaruhi pemilu Malaysia pada 2013. Klien mereka adalah Barisan Nasional.

Pihak oposisi Malaysia, Partai Pakatan Rakyat, segera menuding Perdana Menteri Najib Razak menggunakan cara-cara tak terpuji dengan bantuan Cambridge Analytica, hingga bisa memenangkan pemiluterutama di negara bagian Kedah.

Perdana Menteri Najib Razak segera membantah menggunakan jasa Cambridge Analytica.


Kelanjutan skandal ini?
Kasus ini masih bergulir. Para petinggi Cambridge Analytica kemungkinan besar akan menghadapi pemanggilan dari parlemen, baik di Inggris maupun Amerika Serikat.

 

Sudah adakah pihak yang dipidana?
Belum ada yang menghadapi tuntutan pidana, apalagi ditangkap.

 

Apakah Indonesia juga disebut?
Cambridge Analytica juga menyebut bahwa mereka juga beroperasi di Indonesia. Tapi tidak jelas siapa kliennya dan dalam pemilu yang mana.

 

Editor: Basfin Siregar

Basfin Siregar
20-03-2018 21:33