Main Menu

Pemilu Pura-pura di Mesir, Sisi Dipastikan Menang Lagi

Basfin Siregar
26-03-2018 08:42

Presiden Mesir, Abdel Fatah el-Sisi, tersenyum saat tampil di televisi. Sisi dipastikan akan menang telak dalam pemilu presiden di Mesir yang berlangsung pada 26-28 Maret 2018 (Gatra.com)

Artikel Terkait

 

Mesir, Gatra.com - Hari ini, Senin (26/3), Mesir menyelenggarakan pemilu Presiden. Namun presiden petahana, Abdel Fatah el-Sisi dipastikan akan terpilih kembali dan terus berkuasa sampai 2022.

Pasalnya pemilu presiden Mesir didesain tidak adil.

Koran The Guardian (Inggris) dalam editorialnya Minggu lalu (25/3) ini berjudul "Two Candidates, No Real Choice"  menulis bahwa Sisi menyingkirkan semua lawan politik yang berani mencalonkan diri.

Satu-satunya lawan Sisi dalam pemilu presiden ini cuma Moussa Motafa Moussa, 65 tahun.

Moussa adalah pemimpin partai politik Ghad. Partai ini merupakan sekutu Sisi.

Namun kampanye Moussa tidak serius, seperti tidak berminat menang. Konyolnya lagi, akun Facebook Moussa bahkan sempat menampilkan banner pro-Sisi.

Moussa bahkan menolak tampil dalam acara debat terbuka melawan Sisi. Alasannya, ia "tidak berada di sini untuk menantang presiden."

Tapi Moussa selalu membantah ketika ditanya apakah ia cuma calon boneka.

"Saya bukan boneka, saya seorang pemimpin," katanya seperti dilansir The Guardian (20/3).

Mengapa cuma Moussa yang mencalonkan diri sebagai presiden? Ke mana calon yang lain?

Tidak ada, karena mereka yang berani mencalonkan diri sebagai presiden --selain Moussa-- ditangkap atau direpresi hingga kapok.

Kelompok oposisi Mesir memang menyebut pemilu presiden ini sebagai pura-pura (farce).

Pada 13 Februari 2018 lalu, organisasi Human Rights Watch merilis laporan berjudul Egypt: Planned Presidential Vote Neither Free Nor Fair.

Laporan ini juga memuat "daftar nasib" para lawan politik Sisi yang berani mencalonkan diri sebagai presiden. Nasib mereka bilang dibilang susah.



1. Kolonel Ahmed Konsowa
Pada 19 Desember 2017, Mahkamah Militer Kairo menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepada Konsowa, beberapa pekan setelah Konsowa mempublikasikan niatnya mencalonkan diri sebagai presiden.

Konsowa masih tercatat sebagai personil militer aktif, karenanya tidak boleh mencalonkan diri.

Meski demikian, Konsowa menyatakan  bahwa ia sudah sering mengajukan permohonan mengundurkan diri dari militer, tapi selalu ditolak.

Ia bahkan mengajukan gugatan ke Departemen Pertahanan Mesir karena tidak bisa mengundurkan diri.

Saat ini Konsowa masih harus berurusan  dengan vonis enam tahun penjara dari Mahkamah Militer Mesir. Ia masih memiliki peluang untuk mengajukan banding.


2. Letnan Jenderal Sami Anan (Purn.)
Sami Anan adalah kepala staf angkatan bersenjata Mesir yang kemudian dipaksa pensiun pada 2012 di era Presien Mursi.

Pada 19 Januari 2018, dia mencalonkan diri sebagai presiden.

Lima hari kemudian (23 Januari), Anan ditangkap atas tuduhan "memalsukan dokumen dan melawan angkatan bersenjata". Pencalonannya gagal.


3. Ahmed Shafik
Safik adalah kepala staf angkatan udara Mesir pada 1996-2002 sekaligus perdana menteri Mesir pada 2011 di era Presiden Hosni Mubarak.

Dia mengumumkan pencalonan diri sebagai Presiden pada November 2017.

Shafik tinggal di Uni Emirat Arab sejak 2012. Tapi ia lalu dideportasi ke Mesir. Tapi begitu tiba di Mesir, Shafik mendadak "hilang" di bandara. Keluarga tidak tahu ke mana dia.

Sehari kemudian, terungkap bahwa Shafik dibawa ke sebuah hotel di pinggiran kota Kairo oleh petugas dan "diamankan" di sana, dengan status mirip tahanan rumah.

Shafik akhirnya mengundurkan diri dari pencalonan, mengatakan  bahwa "ia bukan kandidat ideal."

Seorang anggota keluarganya berkata kepada Human Rights Watch, "Kami tobat pada Tuhan, tidak akan lagi terlibat politik."

4. Khaled Ali
Khaled Ali adalah pengacara hak asasi manusia. Dia mengumumkan akan mencalonkan diri sebagai presiden pada pertengahan 2017, tapi mundur pada 24 Januari 2018.

Dalam konferensi persnya, Ali menyatakan mundur dari pemilu karena tekanan pemerintah. Banyak anggota tim kampanyenya ditangkap.



5. Mohamed Anwar al-Sadat
Dia adalah keponakan dari Presiden Mesir, Anwar al-Sadat, yang dibunuh pada 1981.

Sadat sebelumnya anggota parlemen Mesir. Sadat menyatakan mundur dari pencalonkan pada 15 Januari 2018 dengan alasan resiko keamanan.

Dalam konferensi persnya, Sadat mengatakan bahwa berkompetisi di pemilu presiden melawan Sisi ibarat "orang membenturkan kepala ke tembok."

"Seperti bunuh diri melawan orang seperti ini," katanya seperti dilansir The Guardian (15/1.

 

Dengan hanya Sisi dan Moussa sebagai kandidat presiden, banyak pengamat memastikan Sisi akan menang telak.

Upaya memboikot pemilu juga beresiko karena menganjurkan boikot dikategorikan tindakan suversif dan bisa ditangkap. Sudah ada contoh.

Pada 11 Februari lalu, misalnya, Abdel Moneim Aboul Fotouh, tokoh oposisi yang juga pemimpin Partai Mesir Kuat (Strong Egypt Party), memberikan wawancara kepada stasiun TV Aljazeera di London. Isinya mengkritik habis pemilu presiden yang menurutnya sebuah pelecehan (mockery).

"Memboikot pelecehan ini adalah sebuah kewajiban, karena kami tidak bisa menerima rakyat Mesir berpartisipasi dalam tipu-tipu ini." katanya.

Empat hari kemudian (15 Februari), setelah kembali ke Mesir, Aboul Fotouh ditangkap dengan alasan melakukan kontak dengan kelompok Ikhwanul Muslimin di London sekaligus memberikan wawancara ke media yang "bertujuan menciptakan kekacauan dan instabilitas".

Yang lucu, seperti dilansir Reuters (20/3) dalam wawancara dengan stasiun televisi Mesir pada 20 Maret lalu, Sisi mengatakan kalau ia sebenarnya "berharap lebih banyak lagi kandidat presiden yang muncul."

Disinggung bahwa sebenarnya sudah banyak yang mencalonkan diri, tapi mereka semua akhirnya memilih mundur, Sisi menjawab lucu, "Itu bukan salahku."


Editor: Basfin Siregar

Basfin Siregar
26-03-2018 08:42