Main Menu

Ini Alasan Amerika Serikat Kirim Rudal ke Suriah

Flora Librayanti BR K
16-04-2018 22:54

Serangan peluru kendali yang dilancarkan AS.(Reuters/re1)

New York, Gatra.com - Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan peluru kendali yang mereka jatuhkan di ibukota Siriah, Damaskus pada Sabtu subuh, 14 April merupakan langkah pencegahan penggunaan senjata kimia. Oleh karena itu satu dari tiga tempat yang ditarget rudal-rudal AS dan kedua sekutunya, Inggris dan Prancis adalah pusat penelitian, pengembangan, produksi, dan uji coba senjata kimia dan biologi Damaskus.

 

“Ini bukan sebagai bentuk balas dendam, bukan sebagai hukuman, dan juga bukan sebagai bentuk pamer kekuatan. Kami bertindak untuk mencegah penggunaan senjata kimia di kemudian hari dengan menuntut pertanggungjawaban rezim Suriah atas kejahatan kemanusiaan,” klaim Duta Besar Perwakilan Tetap AS di PBB, Nikki Haley dalam Pertemuan Darurat Dewan Keamanan PBB Terkait Suriah, di hari yang sama.

Dalam rilis resmi yang diterima Gatra.com hari ini, pihak AS memastikan bahwa serangan yang terjadi di kawasan Damaskus sepekan sebelumnya merupakan serangan kimia. “Informasi dalam jumlah besar menunjukkan bahwa rezim Suriah menggunakan senjata kimia di Douma pada 7 April. Informasi tadi secara jelas menunjukkan kejahatan yang dilakukan Assad,” ujar Haley.

AS juga menyinggung soal keterlibatan Rusia. Haley menyebut bahwa Assad tahu kalau Rusia melindungi rezim Suriah. Dengan demikian, rezim Suriah tahu mereka bisa bertindak secara bebas dari hukuman. Selain itu, Rusia juga disebut gagal untuk tunduk pada komitmen internasional yang menuntut penghapusan semua jenis senjata kimia dari Suriah.

“Target yang kami pilih berada tepat di jantung program senjata kimia ilegal rezim Suriah. Serangan tersebut direncanakan dengan hati-hati untuk meminimalkan korban jiwa warga sipil. Reaksi ini dapat dibenarkan, sah, dan proporsional,” sebut Haley kemudian.

Haley menyebut bahwa Dewan Keamanan telah gagal memenuhi tanggung jawabnya mencegah penggunaan senjata kimia. “Kegagalan ini sebagian besar akibat halangan dari Rusia. Kami berharap Rusia bisa melihat situasi ini dan mengambil tanggung jawabnya sebagai Anggota Tetap Dewan dan memperjuangkan prinsip Perserikatan Bangsa Bangsa yang seharusnya dijunjung,” tutupnya.



Editor : Flora L.Y. Barus

 

 

Flora Librayanti BR K
16-04-2018 22:54