Main Menu

Sejumlah Perusahaan AS di Cina Bisa Kena Aksi Balasan Xi

G.A Guritno
20-06-2018 13:33

Masyarakat mengantre di Apple store Beijing (REUTERS/Damir Sagolj/yus4)

New York, Gatra,com - Untuk membalas kebijakan tarif dari Donald Trump, Cina tidak harus mengincar produk impor Amerika Serikat (AS). Presiden Xi Jinping cukup menekan perusahaan-perusahaan AS di Cina dengan cara lain sebagai pembalasan.

 

Saat ini banyak perusahaan AS dari Apple dan Walmart sampai Boeing dan General Motors beroperasi di Cina yang tertarik bisnisnya berekspansi. Kondisi ini dapat dimainkan oleh Xi untuk menjatuhkan balasan seperti penundaan pabean, audit pajak dan peningkatan peraturan pengawasan jika Trump terus memberikan ancaman tarif yang lebih besar pada produk Cina.

Sementara itu sebelum Cina melakukan aksi balasan secara konkrit, seperti diberitakan oleh Bloomberg, saham-saham perusahaan AS pada sesi perdagangan Selasa lalu mulai bertumbangan. Merosotnya saham tersebut sebagai bagian dari aksi jual di pasar global atas respon ancaman tarif Trump.

Padahal total ekspor barang AS ke Cina tahun lalu hanya US$ 130 miliar, yang berarti potensi tarif Trump sebesar US$ 250 miliar atau lebih pada barang Cina tidak akan terpenuhi. Tetapi menurut Deutsche Bank AG, jika ekspor dan penjualan perusahaan AS yang ada di Cina diukur, AS justru memiliki surplus US$ 20 miliar dengan Cina,

Dengan potensi sebesar itu, William Zarit, Ketua Kamar Dagang Amerika di Republik Rakyat Cina, mengatakan di Bloomberg Television bahwa AS harus hati-hati. Pasalnya menekan perusahaan melalui sarana birokrasi "adalah praktik yang telah lama digunakan oleh Cina. ‘’Dan perusahaan kami sedang berjaga-jaga," kata Zarit. "Ini sudah pasti menjadi perhatian."

Amerika mesti belajar dari pengalaman dagang Korea Selatan dan Jepang dengan pihak Cina. Perusahaan Korea Selatan dan Jepang pernah merasakan dampak tersebut. Bisnis mereka di Cina langsung goncang lantaran munculnya perselisihan antar negara.

Pada 2017, menyusul keputusan pemerintah Seoul untuk menerapkan sistem anti-rudal yang ditentang Cina, Cina memaksa toko retail asal Korea Selatan, Lotte Shopping Co. untuk menangguhkan operasi di banyak hipermarket negara itu karena dugaan pelanggaran aturan keselamatan kebakaran.

Perusahaan akhirnya menutup operasionalnya dan keluar dari Cina, tetapi masih tidak dapat menjual semua unitnya dan terus merugi. Karena perselisihan itu, menurut Yonhap News Agency, Lotte Group total kehilangan sekitar 2 triliun won (US$ 1,8 miliar) dari Maret 2017,

Selain itu, reaksi negatif seperti boikot dari konsumen terhadap mobil Hyundai dan kosmetik dari Amorepacific Group juga muncul. Bahkan banyak wisatawan Cina membatalkan liburan ke Korea. Hal ini memaksa maskapai penerbangan membatalkan penerbangan dan hotel untuk memangkas kerugian. Bank of Korea memperkirakan bahwa persentase yang terpotong dari produk domestik bruto tahun 2017 sebesar 0,4%.

Pengalaman buruk Korsel juga pernah menimpa Jepang. Produsen mobil Jepang mengalami penurunan besar dalam penjualannya di Cina tahun 2012 setelah pertikaian atas pulau yang disengketakan di Laut Cina Timur memburuk.

"Pemerintah Cina dapat mengatur boikot dengan sangat cepat," kata Nicholas Lardy, seorang rekan senior di Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional di Washington.

"Kami telah melihatnya berulang kali dengan kasus Jepang dan Korea: Mereka melecut mesin propaganda dan tiba-tiba tidak ada yang membeli Toyota lagi."

Bahkan sebelum ancaman terbaru Trump, beberapa perusahaan AS di Cina telah merasakan tekanan.

"Kami sudah mulai melihat beberapa pengawasan regulasi yang meningkat terhadap perusahaan AS yang beroperasi di pasar, apakah itu meningkatkan penegakan pabean, inspeksi emisi lokal di pabrik-pabrik perusahaan kami, dan penegakan hukum periklanan yang lebih ketat," kata Jake Parker, wakil presiden Operasi Cina untuk Dewan Bisnis AS-Cina di Beijing.

Jika taktik itu dijalankan, maka keuntungan ada di pihak Xi karena investasi AS di Cina jauh lebih besar daripada sebaliknya. Laporan yang diterbitkan pada Selasa oleh analis China International Capital Corp Liu Liu dan Liang Hong, seperti dikutip Bloomberg, perlu menjadi perhatian.

Perusahaan-perusahaan Amerika memiliki aset US$ 627 miliar dan penjualan US$ 482 miliar di Cina pada tahun 2015, dibandingkan dengan hanya US$ 167 miliar aset dan penjualan senilai US$ 26 miliar perusahaan Cina di AS.

Satu sektor industri yang paling berisiko adalah otomotif, terutama mengingat preseden historis dari perusahaan Jepang dan Korea Selatan di Cina. Seperti pembuat mobil asing lainnya, GM dan Ford Motor telah melakukan investasi besar-besaran dalam produksi lokal di pasar mobil terbesar dunia itu.

Menurut data Blomberg Intelligence, Cina menyumbang sekitar seperempat laba GM tahun 2017 lalu dan sekitar 12% dari Ford. Pada aksi penjualan hari Selasa di New York, saham GM jatuh 4,7%, sementara Ford merosot 2,7%.

Selain itu, Cina juga pasar terbesar untuk kendaraan listrik. Permusuhan yang meningkat dari Beijing dapat semakin mempersulit upaya Elon Musk untuk menyimpulkan negosiasi antara Tesla Inc dan regulator Cina atas pabrik yang diusulkan akan ada di di Shanghai.

Sebanyak 15.000 kendaraan Tesla yang dijual di Cina tahun lalu mendatangkan lebih dari US$ 2 miliar, sekitar 17% dari total pendapatan. Dalam perdagangan Selasa lalu saham Tesla turun sebesar 6,6%.

Ekspansi bisnis Starbucks Corp yang ingin meningkatkan lebih dari tiga kali lipat pendapatannya selama lima tahun ke depan dari Cina bisa juga terganggu. Daratan dan konsumen Cina, berada di jalur untuk menjadi pasar terbesar perusahaan dalam satu dekade.

Starbucks saat ini memiliki 3.300 outlet di Cina, dibandingkan dengan sekitar 12.000 di AS. Saham Starbucks jatuh sebesar 1,5% dalam perdagangan di Bursa New York.

Saat ini AS memiliki surplus besar dalam perdagangan kedirgantaraan dengan Cina, dengan Boeing sebagai eksportir terbesarnya. Kesenjangan itu bisa menyempit jika Beijing memperluas tarif pungutan untuk pesawat Boeing 737, sumber keuntungan terbesar bagi pembuatnya.

Cina sejauh ini mengatakan akan menargetkan hanya versi jet yang lebih kecil dan opsi negara terbatas karena pesawat pesaingnya dari Airbus SE Eropa sebagian besar terjual habis untuk beberapa tahun ke depan.

Saham Boeing turun 3,7% pada jam 2:30 siang waktu New York, penurunan terbesar pada Dow Jones Industrial Average.Sementara itu, Apple, yang menyewa perusahaan di Cina untuk merakit iPhone, mungkin telah dihukum oleh AS, meski sejauh ini telah menghindari tarif. The New York Times melaporkan bahwa Trump mengatakan kepada Apple bahwa AS tidak akan mengenakan tarif pada iPhone, meskipun Peter Navarro, penasihat perdagangan utama presiden, mengatakan dia tidak mengetahui adanya pengecualian tersebut.

Lalu apakah Xi akan melakukan balasan seperti pernah dilancarkan terhadap bisnis Korea Selatan dan Jepang. Satu hal yang dapat menyebabkan Xi menahan diri dari serangan skala penuh terhadap perusahaan-perusahaan Amerika adalah kekhawatiran tentang dampaknya terhadap ekonomi domestik.

"Cina telah mencoba untuk menghindari hasil yang buruk dari konflik perdagangan AS-Cina," kata Lu Ting, kepala ekonom China di Nomura Holdings Inc. di Hong Kong. Menurut Ting negara itu meninggalkan beberapa "ruang gerak" untuk negosiasi di masa depan.

"Tahun ini sulit bagi Cina karena negara akan menghadapi tekanan penurunan yang lebih besar pada pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang karena aksi deleveraging dan pelambatan pengiriman barang di beberapa tujuan ekspor utama." Deleveraging adalah strategi perusahaan yang berani mengambil hutang dalam jumlah besar untuk mendorong pertumbuhan mereka. Namun langkah ini akan meningkatkan risiko mereka.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
20-06-2018 13:33