Main Menu

Negara Asia-Pasifik Mencari Kesepakatan Hadapi Kebijakan Trump

G.A Guritno
02-07-2018 01:51

Pertemuan Regional Comprehensive Economic Partnership/ RCEP di Tokyo, Jepang. (REUTERS/FT02)

Tokyo, Gatra.com - Para menteri dari 16 negara Asia-Pasifik pada hari Minggu (1/7) mengatakan bahwa mereka akan mengupayakan kesepakatan luas mengenai pembicaraan perdagangan bebas antara mereka pada akhir tahun ini.

 

Dalam pertemuan itu, mereka juga berencana membentuk sebuah front untuk menghadapi kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) membentuk Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) dengan enam negara mitra dagang yakni Jepang, Cina, Korsel, India, Australia, dan Selandia Baru.

Mereka melihat semakin banyak kebutuhan untuk meningkatkan upaya menjembatani jurang perbedaan dalam menghadapi langkah-langkah perdagangan yang proteksionis atau membatasi.

RCEP yang berupaya mengintegrasikan perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) Asean dengan enam negara mitra dagangnya sepakat untuk menelurkan paket kesepakatan pada akhir tahun ini, karena melihat risiko serius dari proteksionisme perdagangan.

"Para menteri mengakui pentingnya dengan cepat dan berhasil menyelesaikan negosiasi RCEP," demikian pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan mereka di Tokyo, seperti diberitakan Kyodo News, MInggu (1/7).

Para kepala perdagangan menegaskan kembali tekad mereka bahwa lingkungan perdagangan global saat ini menghadapi risiko serius dari tindakan dan reaksi perdagangan sepihak. ‘’Tindakan itu akan berimplikasi melemahkan sistem perdagangan multilateral mereka," demikian bunyi pernyataan itu.

Para perunding telah berusaha untuk mempersempit poin yang diperdebatkan dan menjembatani perbedaan di bidang-bidang seperti pengurangan tarif, perlindungan kekayaan intelektual dan e-commerce lintas negara.

Berbicara pada konferensi pers bersama, Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura Chan Chun Sing mengatakan negara-negara peserta berharap untuk melihat "kesimpulan substantif" pada akhir tahun ini.

"Kami berharap dengan suksesnya RCEP, kami akan mengirimkan sinyal kuat dan kuat kepada dunia bahwa negara-negara yang terlibat terus percaya pada perdagangan bebas dan terbuka," kata Chan.

Jepang dan Singapura memimpin bersama pertemuan tingkat menteri di Tokyo, yang pertama diadakan di luar negara-negara ASEAN.

Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian Jepang Hiroshige Seko mengatakan kesenjangan yang luas ada di beberapa titik di antara negara-negara yang bernegosiasi. ‘’Tokyo akan terus mencari perjanjian berkualitas tinggi tetapi siap untuk menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi,’’ kata Seko.

Ke-16 negara, yang merupakan kira-kira sepertiga dari output ekonomi global dan arus perdagangan dunia, telah berusaha untuk menunjukkan kemajuan ke arah kesepakatan liberalisasi perdagangan pada saat AS mengambil tindakan sepihak seperti tarif pada impor baja dan aluminium. Langkah AS itu memicu kekhawatiran tentang perang dagang global.

"Di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang proteksionisme, perundingan RCEP mengumpulkan lebih banyak perhatian global daripada sebelumnya dalam hal apakah Asia dapat menyatukan dan mempertahankan panji-panji perdagangan bebas," kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada awal pertemuan.

Abe yang menyerukan untuk menciptakan pasar bebas, berbasis aturan dan adil, mengatakan bahwa untuk mencapai hal itu sangat tergantung pada keinginan dan tindakan bersama.

Perundingan RCEP dimulai pada tahun 2013, dengan negara-negara yang sejauh ini baru menyetujui dua dari 18 kategori yang masuk perdagangan bebas. Beberapa negara termasuk Jepang mendorong liberalisasi tingkat tinggi, sementara Cina dan India tampaknya berhati-hati.

Pekan lalu, Tokyo hampir menyelesaikan prosedur domestiknya untuk Trans-Pacific Partnership (TPP), sebuah perjanjian perdagangan bebas yang berbeda di wilayah itu dan sampai kini belum berlaku setelah AS menarik diri dari TPP pada tahun 2017 lalu.

Sementara RCEP lebih besar dan lebih beragam daripada TPP yang memiliki 11 anggota, yang kini mencapai sekitar 13 persen dari produk domestik bruto dunia.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
02-07-2018 01:51