Main Menu

Perang Dagang: Ini Balasan Cina

Rosyid
06-07-2018 16:53

Ilustrasi. (Shutterstock/RT)

Washington, Gatra.com - Perang dagang Amerika Serikat dan Cina resmi dimulai. Prang dagang dua raksasa ekonomi ini dimulai dengan keputusan Washington menerapkan tarif baru untuk barang-barang impor dari Cina senilai USD 34 miliar mulai 12.01 malam waktu Timur AS (11.01 WIB), Jumat (6/7).

Tidak berselang lama, jurubicara kementrian luarnegeri Cina Lu Kang mengumumkan pada media di Beijing bahwa mereka juga akan menerapkan tarif khusus untuk barang yang di impor dari AS. Serangan balasan itu efektif mulai 12.01 siang waktu Beijing atau jam 11.01 WIB.

Beijing sebelumnya telah merilis daftar barang impor AS yang akan dikenai tarif bea masuk 25 persen yang total nilai USD 34 miliar. Meliputi lobster, kacang kedelai, mobil listrik dan produk pertanian lainnya.

"Cina berjanji tidak akan melepas tembakan pertama, tetapi untuk membela kepentingan nasional dan kepentingan rakyat, mereka tidak punya pilihan selain menyerang kembali jika diperlukan," kata Kementerian Perdagangan dalam sebuah pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Jumat (6/7).

Para pejabat Bea Cukai AS  menerapkan bea masuk 25 persen atas berbagai produk termasuk kendaraan bermotor, disk drive komputer, bagian dari pompa, katup dan printer dan banyak komponen industri lainnya mulai Jumat ini.

Kamis lalu, Presiden Donald Trump sudah mengatakan kepada media rencanya untuk menerapkan tarif baru pada produk-produk Cina senilai USD 16 miliar. Skema baru ini akan efektif mulau dua minggu lagi. Trump juga mengatakan AS siap menambah USD 200 miliar lalu USD 300 miliar jika Beijing tidak tunduk dan terus melawan.

Itu artinya, AS berpotensi menerapkan tarif tinggi terhadp impor produk-produk Cina hingga senilai USD 550 miliar

Pemerintah Trump menuduh Cina melakukan taktif predator untuk mengungguli teknologi AS. Taktik ini digambarkan meliputi pencurian siber hingga mengharuskan perusahaan AS menyerahkan teknologinya agar bisa mendapat akses masuk ke pasar Cina.

Media di China menyebut tindakan pemerintah Trump sebagai "perilaku kelompok preman".


 

Editor: Rosyid

Rosyid
06-07-2018 16:53