Main Menu

Kunjungan Pompeo ke Korea Utara Memicu Kritik

Gandhi Achmad
08-07-2018 17:54

Kim Yong Chol bersama Mike Pompeo.(Reuters/re1)

Pyongyang, Gatra.com – Kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo selama dua hari di Korea Utara pada Jumat-Sabtu 6-7 Juli 2018 berakhir buruk.

 

Padahal, Pompeo mengklaim optimistis dengan hasil kunjungannya, di mana ia melakukan negosiasi dengan pejabat senior Korut Kim Yong Chol, yang disebut-sebut sebagai tangan kanan Kim Jong Un. Pompeo sudah mengumbar kepada media bahwa pertemuan tersebut berjalan produktif.

 

Namun nyatanya, kunjungan kali pertama Pompeo menginjakkan kaki di Korea Utara pasca pertemuan Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un di Singapura, 12 Juni silam ini malah dikritik pedas oleh Pyongyang.

 

Seperti dilansir The New York Times, Korea Utara menuduh pemerintahan Trump, telah melakukan penekanan dan membuat keputusan sepihak untuk memaksa Korea Utara melepaskan senjata nuklirnya.

 

Namun, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan pemimpin negara itu, Kim Jong Un, masih ingin membangun hubungan persahabatan dan kepercayaan yang telah ditempa dengan Presiden Trump selama pertemuan puncak mereka di Singapura. “Tuan Kim telah menulis surat pribadi kepada Presiden Trump, untuk menegaskan kembali kepercayaan itu,” bunyi pernyataan tersebut.

 

Sayangnya, reaksi Korea Utara yang keras diangap sebagai taktik negosiasi yang telah teruji waktu. Dua bulan yang lalu, ledakan singkat antara kedua negara membuat Presiden Trump membatalkan secara singkat pertemuan. Namun, kemudian menjadwal ulang, pertemuan puncaknya dengan Kim.

 

Tapi pernyataan Korea Utara juga dimainkan untuk rasa takut yang lebih besar: yang samar-samar akan komitmen pertemuan puncak untuk “denuklirisasi Semenanjung Korea” berarti sesuatu yang sangat berbeda di Pyongyang dan Washington.

 

Ketidakpercayaan pada kedua pihak telah menyebabkan AS bersikeras untuk pembubaran yang cepat, mendalam dan sangat mengganggu ; Korea Utara menginginkan pencabutan sanksi lebih awal dan akhir resmi untuk Perang Korea, di antara langkah-langkah lain.

 

Pejabat Korut yang tak ingin disebut namanya mengatakan, pembicaraan dengan Pompeo benar-benar mengecewakan. "Kami mengharapkan pihak AS akan datang dengan langkah-langkah produktif yang kondusif untuk membangun kepercayaan sejalan dengan semangat KTT Amerika-Korut," katanya.

 

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan, pihaknya bersikap tegas dalam pertemuan tersebut, meminta agar tiga hal dipenuhi pihak Korut: denuklirisasi menyeluruh di Korea Utara, jaminan keamanan, dan repatriasi jasad tentara AS yang tewas selama Perang Korea.


 

Editor : Gandhi Achmad 

Gandhi Achmad
08-07-2018 17:54