Main Menu

Meskipun Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, Turki Terancam Krisis

Rosyid
11-07-2018 10:40

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Istanbul, Gatra.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang baru saja terpilih kembali setelah 15 tahun berkuasa, menghadapi situasi yang mengarah pada krisis ekonomi. Situasi semakin genting dengan kondisi global terkini seperti perang dagang dan  harga minyak yang bergerak naik.

Selama berkuasa Presiden Erdogan berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Turki menjadi salah satu tercepat di dunia. Tahun lalu meningkat 7,4 persen. Namun pertumbuhan itu didorong hutang yang besar. Begitu besar sampai ke level yang mengkhawatirkan, demikian dilaporkan New York Times, Selasa (10/7).

Nilai mata uang Lira telah jatuh hngga 20 persen sepanjang tahun ini. Nilai Lira turun lagi ketika Senin lalu Presiden Erdogan mengumummkan kabinet ekonominya yang dipimpin menantunya. Penunjukan itu dimaknai negatif investor.

Akibat melemahnya Lira, belanja rumah tangga meningkat, kalangan bisnis menjerit karena pendapatanya dalam Lira sementara hutangnya dalam dollar. Melemahnya Lira berarti dia harus membayar dollar lebih mahal.

Banyak perusahaan besar Turki meminjam uang dalam jumlah besar. Hingga akhir April, perusahaan swasta Turki memiliki utang luar negeri lebih dari $ 245 miliar, atau hampir sepertiga ukuran ekonomi keseluruhan negara itu. Mereka sekarang berusaha membujuk bank dan kreditur untuk meringankan beban utangnya.

"Itu jumlah yang sangat besar," kata Selva Demiralp, seorang ekonom yang sebelumnya bekerja di bank Federal Reserve di Washington dan sekarang mengajar di Koc University di Istanbul. "Dan pemerintah mendorong mereka untuk meminjam lebih banyak."

Pemerintah telah mensubsidi proyek-proyek infrastruktur besar seperti bandara juga kanal sepanjang 28 mil yang menghubungkan Laut Hitam ke Laut Marmara senilai 13 miliar dolar.

Pengelolaan Ekonomi Tidak Lazim
Pemerintah Turki memang bisa meningkatkan suku bunga untuk menjaga nilai uang. Saat ini suku bunga sudah di 17,75 persen. Tapi langkah itu beresiko menekan pertumbuhan ekonomi. Jika menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, inflasi akan membumbung dan Lira semakin kehilangan daya belinya. Jika kondisi berlarut-larut, Turki dikhawatirkan menjadi pasien Dana Moneter Internasional.

"Turki bisa menjadi negara berikutnya yang hancur," kata Marie Owens Thomsen, kepala ekonom global di Indosuez Wealth Management di Jenewa. "Ia memiliki semua prasyarat sebuah negara yang gagal."

Turki memang menghadapi masalah yang sama seperti negara berkembang lainnya. Ketika The Fed menaikkan suku bunga, para investor menarik uangnya dari negara-berkembang seperti Argentina, Turki Meksiko untuk disimpan dalam bentuk dollar.

Tetapi Turki menonjol karena pengelolaan keuangannya yang tidak lazim. Sejak kudeta gagal dua tahun lalu, Presiden Erdogan membuka kran kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkalanjutan. Bank Sentral berusaha menahan pertumbuhan yang sangat cepat dengan mengangkat suku bunga untuk menstabilkan inflasi dan melemahnya Lira. Kebijakan ini tidak disukai Presiden.

Presiden Erdogan mengklaim inflasi sebenarnya akibat dari sukubunga tinggi. Sebelum pemilu, dia mengancam akan mengambil alih kendali Bank Sentral. Ancaman ini direspon negativ investor yang kemudian melepas Lira dan menyebabkan mata uang itu semakin tertekan.


Editor: Rosyid

Rosyid
11-07-2018 10:40