Main Menu

Investasi Rahasia Bekas Orang Dalam Putin di AS

Rosyid
11-07-2018 13:52

Alexander Voloshin.(Reuters/Maxim Shemetov/re1)

Houston, Gatra.com - November 2017, Presiden Donald Trump bersama Presiden Cina Xi Jinping menyaksikan serangkaian perjanjian dagang. Yang terbesar adalah kontrak senilai USD 26 miliar untuk memasok etana cair ke Cina. Kerjasama ini melibatkan perusahaan swasta American Ethane dengan salah satu konglomerat besar Cina.

Saat itu Trump bertepuk tangan dan mengangguk dengan penuh semangat ketika CEO Ethane, John Houghtaling, menandatangani nota kesepahaman "bersejarah" dengan rekan Cina-nya. Trump mengatakan kerjasama ini akan menciptakan ribuan lapangan kerja di Amerika Serikat.

Faktanya, yang akan menerima keuntungan terbesar dari kerjasama ini justru tinggal dan bekerja di Moskow, Russia. Salahsatunya adalah Alexander Voloshin. Dia adalah politisi papan atas yang pernah menjadi orang penting di kabinet Putin pada tahun 2000 -2003. Kini dia lebih banyak mengurusi bisnisnya, meskipun masih menjadi tokoh politik berpengaruh di Russia.

Terungkapnya perang Voloshin adalah hasil dari penelitian lembaga Dossier Center bersama The Guardian.

Menurut The Guardian, penelitian itu mengungkapkan bahwa sekelompok orang kaya Russia pernah mencoba berinvestasi di industri shale gas yang beberapa tahun lalu booming. Mereka adalah Mikhail Yuriev, mantan wakil negara bagian Duma, Andrey Kunatbaev dan Konstantin Nikolaev. Setelah dua kali pengeboran yang gagal, mereka berpaling ke etana, produk sampingan dari proses shale gas.

Di Moskow, Yuriev mendekati Voloshin. Voloshin pada gilirannya merekrut Roman Abramovich, yang menyediakan modal awal sebesar $ 50 juta. Keempat Rusia ditambah Abramovich menjadi co-investor di American Ethane. Houghtaling, pengacara dan pengusaha New Orleans, menjadi CEO perusahaan. Istrinya orang Rusia. Tahun 2015 Abramovich keluar dari American Ethane.

Modal awal Voloshin tidak besar. Dia menginvestasikan $ 1,25 juta. Sebagai imbalannya ia mendapat 2,5% saham dan jabatan "direktur independen" di perusahaan baru itu. Sahamnya sekarang berpotensi bernilai puluhan juta dolar. Voloshin meminjam uang yang digunakan untuk membeli saham dari Nikolaev, melalui perusahaan di Seychelles.

Dalam wawancara dengan The Guardian, Houghtaling menjelaskan bahwa koneksi antara American Ethane dengan orang-orang Rusia sudah dilaporkan kepada otoritas AS yang berwenang. Perusahaan swasta memang tidak diwajibkan untuk mengungkapkan orang-orang dibelakang layar, namun nama Nikolaev dan Kunatbaev disebutkan secara terbuka sebagai anggota dewan komisaris.

Menurut Houghtaling, kesepakatan dengan Cina akan sangat menguntungkan defisit neraca perdagangan AS dengan Beijing. "Para investor Russia itu tidak masuk dalam daftar sangsi. Kami melihatnya sebagai hal yang positif dimana Russia berinvestasi di AS. Kesepakatan itu secara material mengurangi ketergantungan Cina pada gas Russia," tambahnya.

Namun tetap saja keterlibatan Voloshin dalam proyek itu tertutup. Sebagai mantan lingkaran dalam Putin, dia memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori PEP atau Politically Exposed Person atau orang yang terpapar secara politik. Yang berarti transaksi keuangannya harus mendapat pengawsan lebih. Kunatbaev, salah satu mitra Rusia, berkata tentang Voloshin: “Dia adalah seorang yang jujur. Dia tidak memandang AS sebagai musuh."

Penelitian Dossier juga mengungkapkan jaringan kontak Voloshin yang luar biasa di Barat. Mantan Menlu AS, Kissinger bertemu secara teratur dengan Voloshin, termasuk dua kali di Moskow pada 2013 dan 2016, dan sekali pada tahun 2014 di New York, biasanya untuk makan siang. Kissinger yang mendesak Trump untuk secara pragmatis berhubungan kembali dengan Putin.

Voloshin melakukan perjalanan secara teratur ke AS. Pada 2015, ia dan istrinya, Galina, pergi berlibur ke Grand Canyon. Salah satu anaknya belajar selama tiga tahun di Boston. Kegiatannya untuk American Ethane termasuk perjalanan ke Jepang untuk presentasi investor.



Editor: Rosyid

Rosyid
11-07-2018 13:52