Main Menu

Mengukur Kehancuran Perang Dagang

G.A Guritno
12-07-2018 01:09

Ilustrasi perang dagang Amerika-Cina. (Shutterstock/FT02)

Washington, Gatra.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus mendorong konflik perdagangan dengan Cina ke titik di mana kedua pihak sulit untuk mundur.

 

Menjelang 30 Agustus, ketika AS akan melakukan pemilihan jangka menengah yang penting untuk agenda legislatif Trump, Gedung Putih bersiap untuk mengenakan tarif 10 persen pada produk-produk buatan China senilai US$ 200 miliar, mulai dari pakaian hingga suku cadang barang elektronik seperti televisi hingga lemari es.

Pungutan tarif lanjutan yang diumumkan pada hari Selasa lalu, bersama dengan sekitar U$ 50 miliar produk yang sudah berjalan itu, akan menaikkan harga barang impor mencapai hampir setengah dari semua yang dibeli AS dari negara di Asia itu. Kini Cina memiliki waktu hingga tujuh minggu untuk membuat kesepakatan atau menggali dan mencoba untuk bertahan lebih lama dari gempuran pemerintahan Trump.  

Sementara Presiden Cina Xi Jinping, yang tengah menghadapi tekanan politik di dalam negerinya sendiri untuk terlihat tetap tangguh, telah berjanji untuk merespon pukulan dengan pukulan.

Xi sudah menerapkan pembalasan tarif dengan target basis sejumlah produk dari para pendukung Trump, termasuk kacang kedelai dari Iowa dan minuman bourbon Kentucky.

Namun, sejumlah rentetan serangan AS yang terbaru akan memaksa Tiongkok untuk mengenakan tarif yang jauh lebih tinggi atau mengambil langkah yang lebih mengganggu seperti membatalkan pesanan pembelian, mendorong boikot konsumen, dan membuat regulasi yang merintangi produk AS.

Trump Bakal Lebih Keras

Jika hal itu dilakukan Tiongkok maka akan memicu risiko yang makin tajam, yakni  memprovokasi Trump untuk menindaklanjuti ancaman dengan mengenakan pajak pada hampir semua produk Cina. Semua tindakan tersebut akan melepaskan sentimen nasionalisme baik di AS dan Cina, yang akan memicu pergulatan yang lebih dalam pada persoalan dominasi geopolitik global.

Trump pada hari Rabu lalu membingkai langkah perang dagangnya dengan alasan demi melindungi bisnis dan petani Amerika dari praktik perdagangan Cina yang berbahaya.

“Hambatan dan tarif perdagangan negara-negara lain telah menghancurkan bisnis mereka (bisnis dan petani AS). Saya akan membuka banyak hal, menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi hal itu tidak bisa berjalan terlalu cepat,” kata Trump di sebuah posting Twitter dari Brussels, di mana dia menghadiri pertemuan puncak NATO. “Saya bertarung pada level lapangan pertandingan demi petani kami, dan akan menang!”

Respon lanjutan Trump tersebut meresahkan para pengamat ekonomi. "Ini sudah melewati titik tanpa harapan," kata Pauline Loong, direktur pelaksana di perusahaan riset Asia-Analytica di Hong Kong. Bahkan, ia mendiskripsikan perang dagang tersebut seperti awal dari zaman es ketika perang dingin hubungan antara Cina dan AS itu dimulai.

Dampak awal sudah terasa dimana investor mulai goyah dan memicu kejatuhan saham dan kemerosotan komoditas di aset pasar negara berkembang. Indeks sejumlah bursa saham di sejumlah kota besar di dunia mengalami penurunan. Sebelumnya perang tarif diperkirakan hanya akan berdampak terbatas, namun kini para ekonom mulai memperingatkan perang dagang besar-besaran dapat menggagalkan pertumbuhan  ekonomi yang terus menguat dalam beberapa tahun terakhir.

Beijing Menyiapkan Balasan Besar

Kementerian Perdagangan Cina mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan dipaksa untuk membalas terhadap apa yang disebut tarif AS yang "benar-benar tidak dapat diterima". Belum ada pembicaraan tingkat tinggi lanjutan yang dikonfirmasi antara kedua pihak sejak kunjungan Sekretaris Perdagangan AS Wilbur Ross ke Beijing pada awal Juni ke Beijing yang sama sekali tidak menghasilkan terobosan.

Beijing "tidak pernah menyerah pada ancaman atau pemerasan" dan akan membalas tarif "tidak berdasar", demikian pernyataan Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen dalam komentar tertulisnya kepada Bloomberg. "Pihak AS telah mengabaikan kemajuan, mengadopsi tindakan sepihak dan proteksionis, dan memulai perang dagang."

Kondisi penuh tidak kepastian tersebut memicu pesimisme para ekonom. "Karena barang impor yang ditargetkan meluas hingga mencakup lebih banyak produk konsumen, pukulan ke dompet rumah tangga dan lonjakan inflasi dapat mulai menggeser perhitungan politik di AS," kata ekonom Bloomberg untuk isu Cina, Fielding Chen.

Sementara kepala Komite House Ways and Means, Kevin Brady, dari Texas, memperingatkan mengenai terjadinya "perang perdagangan bertahun-tahun nan panjang antara dua ekonomi terbesar di dunia yang akan menelan lebih banyak lagi bola dunia."

Ketua Komite Keuangan Senat, Orrin Hatch, dari Utah, menyebut pungutan tarif baru itu "sembrono" dan tidak "ditargetkan." Senator Chuck Grassley, seorang Republikan dari Iowa, mengatakan dia memiliki "keprihatinan besar" tentang pertikaian perdagangan dengan Cina dan memicu tingkat ketidakpastian di antara petani dan bisnis di negaranya.  

"Ketika Anda tidak tahu apa yang akan menjadi hasilnya, itu sangat tidak pasti, dan hal itu memiliki dampak yang jelas," katanya kepada televisi Bloomberg. “Berapa lama ini akan berlangsung? Saya harap kita bisa menyelesaikannya dengan segera.”

Langkah terbaru menunjukkan bahwa Trump - yang pada bulan Maret lalu menyatakan bahwa "perang dagang baik dan mudah untuk dimenangkan " - mungkin berkompromi dengan janjinya untuk menyelamatkan konsumen dari rasa sakit.

Pengenaan tarif impor dapat menaikkan harga berbagai barang mulai dari sarung tangan baseball hingga tas tangan sampai kamera digital, tepat di saat para pemilih menuju ke tempat pemungutan suara akhir Agustus nanti.  

Tersandera Praktik Tidak Sehat Cina

Menurut dua pejabat senior yang berbicara kepada wartawan, AS sendiri merasa tidak punya pilihan lain, akan tetap bergerak maju dengan tarif baru setelah Cina gagal menanggapi kekhawatiran pemerintahan Trump atas praktik perdagangan Beijing yang tidak adil dan penyalahgunaan kekayaan intelektual Amerika. Pemerintahan Trump sejauh ini menuntut perubahan yang lebih sistemik dari Cina dan menolak tawaran Cina untuk memangkas surplus perdagangan besar-besaran dengan membeli lebih banyak barang Amerika.

"Selama lebih dari setahun, Pemerintahan Trump dengan sabar mendesak Cina untuk menghentikan praktik tidak adil, membuka pasarnya, dan terlibat dalam persaingan pasar sejati," kata Perwakilan Perdagangan Robert Lighthizer dalam sebuah pernyataan. "Cina tidak mengubah perilaku-perilaku yang telah menempatkan masa depan ekonomi AS dalam bahaya," katanya.

Meskipun pemilu jangka menengah mendatang bakal memberi efek langsung bagi Trump, perang dagang menimbulkan kekhawatiran yang lebih eksistensial bagi Xi, yang Partai Komunisnya telah membangun legitimasinya pada keberhasilan ekonomi. Para akademisi terkemuka dan beberapa pejabat pemerintah mulai mempertanyakan apakah ekonomi Cina yang melambat dan bergantung pada perdagangan dapat menahan serangan berkelanjutan dari Trump.

AS telah meminta Cina untuk menarik program "Made-in-China 2025", inisiatif yang telah diteken Xi untuk mendominasi beberapa industri strategis, seperti semikonduktor sampai pengembangan kedirgantaraan. Sejak menghapus batas masa jabatan presiden, Xi telah memperkuat kontrolnya atas kekuasaan dan bisnis di Tiongkok dan nampak semakin kokoh.

"Cina tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dan malah tampak seperti sedang mempersiapkan konflik yang berlarut-larut," kata Scott Kennedy, wakil direktur studi Cina di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington. "Cina memiliki satu juta dan satu cara untuk membalas," pungkasnya.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
12-07-2018 01:09