Main Menu

Mengenal Adul Sam-on, Pahlawan Dari Penyelamatan Korban di Gua Thailand

Birny Birdieni
12-07-2018 07:32

Para korban tim sepakbola yang terjebak di Gua Tham Luang dirawat di RS. (REUTERS TV/FT02)

Chiang Rai, Gatra.com- Dari 12 anak anggota tim sepak bola yang terperangkap bersama pelatihnya selama dua pekan lebih di Gua Tham Luang, Chiang Rai, Thailand ada satu anak yang memiliki peran penting disana. Dia adalah Adul Sam-on, remaja berusia 14 tahun yang mahir menggunakan lima bahasa.

Adul bisa berbicara bahasa Inggris, Thailand, serta Burma, Mandarin dan Wa. Wa adalah bahasa yang digunakan di dekat perbatasan Myanmar dan Cina. Pengetahuannya akan bahasa Inggris jugalah yang memungkinkan komunikasi terjalin antara korban dengan tim penyelamat Inggris.

Kemampuan Adul telah memberikan penjelasan kepada tim penyelamat mengenai informasi yang mereka butuhkan. Sehingga Tim Penyelamat bisa mendapat gambaran seperti apa juga kondisi di dalam gua tersebut.

Kecakapan Adul pula yang telah memungkinkan komunikasi dengan penyelamat asal Inggris yang menemukan ke-13 korban terjebak di Gua Tham Luang, Senin malam pekan lalu. "Hari apa ini?," teriaknya memberitahukan kepada penyelam kalau para korban itu lapar dalam sebuah video yang disiarkan ke seluruh dunia.

Setelah misi evakuasi penyelamatan korban dikakukan, Adul menyampaikan kalau dirinya dalam kondisi yang baik. "Saya Adul, saya dalam kondisi kesehatan yang baik," ungkap remaja kurus itu sambil memberikan ucapan 'wai" salam tradisional Thailand dalam sebuah rekaman video dikutip dari News.com Australia, Selasa (12/7).

Kisah 13 korban di Gua Tham Luang menjadi sorotan dunia dalam sepekan lebih. Ke-12 anak-anak anggota sepak bola berusia 11-16 tahun itu hilang bersama pelatih olahraganya, setelah latihan sepakbola pada 23 Juni lalu. Mereka pergi dengan misi eksplorasi ke gua perbatasan Thailand dan Myanmar dalam rangka merayakan ulang tahun sang Kapten tim, Duganpet Promptep.

Evakuasi penyelamatan dimulai sejak Minggu (8/7) pukul 10.00 am. Misi pertama melibatkan Sebanyak 13 penyelam asing dengan lima personel Angkatan Laut Thailand. "Selanjutnya melibatkan 90 penyelam dimana 50 diantaranya dari negara lain," ungkap Ketua Tim Penyelamat Narongsak Osottanakorn dikutip dari Reuters


Kisah Pilu Adul

Satu kisah memilukan yang dialami Adul adalah bahwa orangtuanya telah memberikan pengasuhan dia di sebuah gereja Baptis di Thailand delapan tahun lalu. Dalam laporan New York Times dikatakan kalau kedua orang tuanya meminta pendeta merawatnya.

Status Adul ada di wilayah Wa dimana merupakan bagian negara Myanmar dengan pemerintahan yang tidak diakui negara itu maupun dunia internasional. Disana, akses peluang lapangan kerja maupun pendidikan menjadi sesuatu yang langka. Sebaliknya, wilayah perang gerilya itu dikenal dengan perdagangan narkoba.

Nah status Adul yang tanpa kewarganegaraan itu tak membuatnya patah arang. Di antara teman lainnya, dia memiliki kemampuan unggul. Dikutip dari Wall Street Journal, disebutkan bahwa teman-temannya menggambarkan dia sebagai sosok yang serba bisa.

Secara prestasi, Adul telah memenangkan piala untuk setiap olahraga mulai dari bola voli hingga futsal. Bahkan siswa murid teratas dengan catatan akademis tak tertandingi itu bisa memainkan tiga instrumen alat musik.

Direktur sekolah Phunawhit Thepsurin menggambarkan Adul sebagai siswa "permata" bagi Sekolah Ban Wiang Phan di Mae Sai itu. "Dia pandai dalam hal belajar dan olahraga. Dia membawa sekolah kami beberapa medali dan sertifikat dari prestasinya," katanya kepada AFP dilansir dari News.com Australia.

Instruktur Adul di Sekolah Ban Pa Moead, Phannee Tiyaprom mengatakan bahwa Adul adalah anak dengan sopan santun yang baik. "Itu hal pertama yang terlintas dipikiran ketika saya berbicara dengan dia," pungkasnya.

 


 

Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
12-07-2018 07:32