Main Menu

Mengenal Pussy Riot, Band Punk Rusia yang Interupsi Final Piala Dunia 2018

Hidayat Adhiningrat P.
16-07-2018 09:51

Seorang penjaga keamanan mengejar anggota band Pussy Riot yang telah menyerbu lapangan di final Piala Dunia. (REUTERS/Damir Sagolj/RT)

Jakarta, GATRA.com - Pertandingan Final Piala Dunia 2018 sempat terhenti di menit 52. Pasalnya, ada empat orang, mengenakan pakaian polisi Rusia, berlari masuk ke lapangan. Mereka adalah empat personel band punk asal Rusia, Pussy Riot.


Tiga orang masuk ke lapangan dari belakang gawang Prancis. Satu orang lainnya sempat mencoba masuk, tetapi sudah dihadang petugas di tepi lapangan.


Pussy Riot tercatat sebagai band musik rock yang sejak lama getol menyuarakan kritik kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka mengaku tak menyukai sejumlah kebijakan politik Putin baik di kancah nasional maupun internasional.

Sebelumnya, dua personel Pussy Riot pernah ditahan karena menggelar unjuk rasa menentang pemerintahan Putin di sebuah gereja.

Kepada Reuters melalui sambungan telepon, anggota Pussy Riot, Olga Kurachyova, mengaku bahwa dirinya adalah satu dari empat orang yang ikut masuk ke lapangan Stadion Luzhniki Moskow tersebut. Beberapa jam setelah laga berakhir, Kurachyova mengatakan, ia masih berada di tahanan kantor polisi Moskow.

Melalui akun twitternya, Pussy Riot menegaskan bahwa, “Ini adalah protes atas banyaknya penangkapan ilegal. Ini terkait dengan persaingan politik di negara ini.”

Aksi ini juga dilakukan sebagai bentuk peringatan atas 11 tahun kematian penyair Dmitri Prigov asal Rusia. 

“Hari ini merupakan 11 tahun sejak kematian penyair hebat Rusia, Dmitri Prigov. Prigov menciptakan potret seorang polisi, pembawa bangsa yang sangat indah, di budaya Rusia,” kata Pussy Riot melalui akun Facebook mereka.

Dmitry Aleksandrovich Prigov sendiri adalah penyair dan seniman Rusia. Ia lahir 5 November 1940, Moskow, Uni Soviet  dan meninggal 16 Juli 2007. Dmitri adalah anggota seniman avant-garde Rusia dan gerakan konseptualisme Moskow di era 1970 dan 1980an. 

Selain menulis lebih dari 30.000 puisi, ia juga menulis drama dan esai. Dmitri dikenal sebagai seniman yang menggabungkan kata dan rupa dalam seni instalasi dan video. Ia beberapa kali memenangkan penghargaan, salah satunya Pushkin Prize pada 1993.

Reporter: Hidayat Adhiningrat P

Editor: Rosyid

Hidayat Adhiningrat P.
16-07-2018 09:51