Main Menu

Perang Dagang dengan AS, Cina Ajak Inggris Jadi Sekutu

Birny Birdieni
30-07-2018 15:30

Pertemuan Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt dengan Menlu China, Wang Yi di Beijing, China 30 Juli 2018. (Reuters/Jason Lee/afn)

Beijing, Gatra.com- Kondisi perang dagang antara Cina versus Amerika Serikat membuat "Negeri Panda" itu harus mencari sekutu dalam perjuangannya melawan era Pemerintahan Presiden Donald Trump. Untuk itu, Cina meneawarkan pembicaraan kesepakatan perdagangan bebas dengan Inggris pasca British Exit (Brexit).

 

Upaya Cina menjangkau Inggris itu karena Beijing tetap terperosok dalam perang dagang sengit dengan Washington. Britania Raya pun memberi sinyal kepada perusahaan Cina bahwa mereka terbuka secara bisnis selepas pergi dari Uni Eropa tahun mendatang.

Cina memang menjadi salah satu negara dimana Inggris ingin menandatangani kesepakatan perdagangan bebas pasca-Brexit. Bahkan Menteri Luar Negeri Inggris, Jeremy Hunt telah bertemu Diplomat Top Pemerintah Cina yang juga Penasehat Negara, Wang Yi pada Senin (30/7) ini.

Kedua negara itu sepakat untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dari masing-masing negara. Usai pertemuan, Hunt menyebut kalau Cina membuka diskusi tentang kemungkinan kesepakatan perdagangan bebas antara keduanya.

"Cina membuka diskusi yang dilakukan antara Inggris dan China pasca Brexit. Itu adalah sesuatu yang kami sambut dan kami akan mendalami itu," ungkap Hunt dilansir dari Reuters, Senin (30/7)

Adapun Wang tak menyebut secara detil apa isi tawarannya itu. Namun ia menyebut kalau kedua negara secara proaktif telah sepakat untuk menggabungkan strategi pembangunangn masing-masing. Hingga memperluas skala perdagangan dan investasi bersama.

Dalam kesempatan itu, Wang mengecam keras sikap Washington bahwa mereka yang sebenarnya menjadi korban pada perseteruan dagang mereka. "Tanggung jawab atas ketidakseimbangan perdagangan antara Cina dan Amerika Serikat tidak terletak pada Cina," ia menegaskan.

Menurut Wang, tidak hanya Cina saja yang sudah menikmati perdagangan antara keduanya. Namun Amerika Serikat pun telah menikmati banyak manfaat dengan mendapatkan banyak barang murah, baik untuk konsumen dan perusahaan AS.

Cina dan Amerika Serikat sempat menghindari perang dagang skala penuh pada Mei lalu. Langkah itu dilakukan ketika Cina setuju utuk membeli produk agrikultur dan energi dari Cina. Namun kesepakatan itu gagal dan kedua pihak memilih saling menampar dengan tarif impor barang masing-masing.

Sejak itu, Washngton mengancam akan menerapkan tarif akan barang Cina senilai US$450 milyar. Ini tanpa ada negosiasi formal antara kedua negara yang telah berlangsung sejak awal Juni.

Pihak Cina mengklaim kalau mereka berkomitmen menyelesaikan peselisihan itu melalui pembicaraan. Mereka juga mengajukan banding ke negara lain untuk mendukung dan menegaskan perdagangan bebas dan sistem perdangan multilateral. Meski pihak negara-negara di Eropa sebenarnya menyampaikan keluhan akses pasar yang sama seperti Amerika Serikat.

"Cina tidak ingin berperang, tetapi dalam menghadapi sikap agresif dan pelanggaran hak dari Amerika Serikat, kita tidak bisa dan harus mengambil tindakan balasan," kata Wang menegaskan.

Cina dan Amerika Serikat telah melakukan pembicaraan dan telah mencapai konsensus. Akan tetapi Amerika Serikat tidak bertemu Cina setengah jalan pun. Wang menyebut bahwa bagi Cina, pintu dialog akan selalu terbuka.

"Pintu dialog dan negosiasi Cina selalu terbuka. Tetapi dialog perlu didasarkan pada kesetaraan dan saling menghormati serta aturan," kata Wang. “Ancaman dan tekanan sepihak hanya akan memiliki efek sebaliknya," ia menandaskan.

 


Editor : Birny Birdieni 

 

Birny Birdieni
30-07-2018 15:30