Main Menu

Imbas Perang Dagang Trump Merontokkan Saham Sejumlah Perusahaan Raksasa AS

Flora Librayanti BR K
07-08-2018 12:33

Ilustrasi.(Shutterstock/re1)

Jakarta, Gatra.com - Ketegangan dagang yang semakin menjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China tetap menjadi topik terpanas di pasar finansial.

 

Presiden AS Donald Trump sepertinya merayakan kemenangan atas pertarungan pertama di perang dagang, dengan membuat cuitan yang mengatakan “tarif bekerja dengan sangat baik” di hari Minggu kemarin. Ia yakin bahwa tarif akan membantu AS untuk mulai mengurangi utang yang luar biasa besar yang menumpuk selama pemerintahan Barack Obama. Trump juga menyebutkan bahwa ekuitas China merosot tajam sebagai bukti bahwa tarif bekerja sesuai harapan. Menurut pendapatnya, tarif akan membuat AS jauh lebih kaya lagi, dan “hanya orang bodoh yang tidak sependapat”.

Tarif sejauh ini dibebankan pada sekitar US$85 miliar barang impor. Dengan asumsi tarif 25%, ini akan menghasilkan US$21,25 miliar. Ini adalah 1,33% dari utang tambahan US$1,6 triliun yang telah diakumulasikan Presiden Trump sejak menjabat pada 2017 dan hanya 0,1% dari total utang saat ini yaitu US$21 triliun. Jadi, tampaknya tarif yang diberlakukan tidak akan mengurangi utang Amerika secara substansial.

“Menurut saya, sebagian besar tarif ini akan dibayar oleh konsumen AS sendiri,” ungkap Chief Market Strategist Forex Time (FXTM), Hussein Sayed di Jakarta, Selasa (7/8). “Saya juga menduga IHK akan mulai merefleksikan kenaikan harga, terutama apabila pemerintahan Trump memberlakukan tarif tambahan terhadap US$200 miliar barang dari China,” tambahnya lagi.

Kenaikan inflasi akan mengakibatkan kenaikan suku bunga AS, kemudian meningkatkan biaya kredit dan biaya pembayaran utang. Hasilnya, sejumlah perusahaan AS telah memangkas proyeksi laba karena tarif ini, terutama produsen mobil. Saham GM, Ford, dan Fiat Chrysler merosot tajam setelah mengumumkan kinerja perusahaan. Perusahaan AS lainnya yang terkena dampak dari perang dagang global Trump antara lain Tyson Foods, Harley Davidson, United Technologies, Caterpillar, dan Coca-Cola serta banyak lainnya.

“Ini menjelaskan mengapa S&P 500 gagal mencapai rekor level tertinggi baru, walaupun 81% perusahaan saat ini berhasil melampaui proyeksi laba, dengan salah satu musim pendapatan terbaik dalam sejarah. Mengingat musim pendapatan kali ini hampir berakhir, perang dagang akan kembali mendominasi,” jelas Hussein.

Potensi risiko besar berikutnya adalah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. “Saya rasa ada kemungkinan besar bahwa Partai Demokrat akan mengambil alih Kongres AS dan mengakhiri kendali satu partai yaitu Partai Republik saat ini. Ini bukan berita bagus untuk saham, dan saya menduga akan melihat rotasi ke saham non-siklikal dan peningkatan kas di portofolio investor,” pungkas Hussein.


 

Editor : Flora L.Y. Barus

 

Flora Librayanti BR K
07-08-2018 12:33