Main Menu

Krisis Lira Turki Memicu Peningkatan Indeks Ketakutan

Flora Librayanti BR K
14-08-2018 09:49

Mata uang Lira Turki (REUTERS/Murad Sezer/yus4)

Ankara, Gatra.com - Lira Turki turun hampir 9% dalam perdagangan awal pekan ini dan dampaknya nilai Euro mencapai titik terendah dalam satu tahun. Alasannya, investor khawatir krisis keuangan negara itu bisa menyebar ke pasar Eropa.

Mata uang Lira tergelincir dengan mengkhawatirkan terhadap dolar AS. Perdagangan awal mencapai level terendah sebelum kembali naik setelah regulator perbankan negara tersebut mengumumkan bahwa hal tersebut dapat membatasi kemampuan bank Turki untuk menukar Lira terhadap mata uang asing. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menjanjikan tindakan yang belum ditentukan untuk membalikkan keadaan.

The Guardian menulis bahwa pasar saham Asia juga turut melemah. Nikkei di Jepang kehilangan 1,7%, Hong Kong turun 1,8%, Shanghai -1,7%, Sydney -0,5% dan bursa Taiwan turun 3%. Euro turun 0,3% ke level terendah selama satu tahun terakhir terhadap dolar AS. Indeks volatilitas Vix mengukur turbulensi di pasar keuangan - juga dikenal sebagai indeks ketakutan - melonjak 16% pada Senin.

Sejauh ini Lira telah jatuh lebih dari 40% tahun di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya kontrol Erdogan atas ekonomi dan memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat, terutama atas perang di Suriah.

Keputusan pengadilan Turki untuk memperpanjang penahanan Andrew Brunson, seorang pastor AS yang dituduh melakukan spionase bagi militan Kurdi dan gerakan Gulen, sebuah kelompok yang dituduh mendalangi kudeta 2016, memperkeruh hubungan Turki dan AS. Hasilnya, pada pekan lalu, Presiden Donald Trump memutuskan menggandakan tarif baja Turki.

Chris Weston dari firma perdagangan online "Instagram Market" di Melbourne, memperingatkan bahwa pasar global akan berada di tepi karena para investor mencoba untuk menilai dampak krisis pada bank-bank Eropa yang telah meminjamkan uang kepada Turki.

“Pengawas keuangan Uni Eropa menyatakan keprihatinan tentang eksposur keuangan UE ke Turki. Maka, jika itu menjadi perhatian untuk lembaga ini, maka para pedagang juga harus waspada,” katanya.

Analis di bank ANZ di Australia tersebut mengatakan risiko penularan terjadi di bank-bank Spanyol, Italia dan Prancis yang terkena utang Turki, serta Argentina dan Afrika Selatan. “Setumpuk besar utang perusahaan Turki dalam mata uang asing. Tetapi mata uang yang meluncur cepat - dan inflasi yang mengancam untuk menjadi eksponensial - adalah kombinasi beracun.”


Reporter : YSS
Editor : Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
14-08-2018 09:49