Main Menu

Gara-gara salah Eja Nama, Bubar Keluarga

Rosyid
17-08-2018 19:50

Riyazul Islam (REUTERS/Adnan Abidi/yus4)

New Delhi, Gatra.com - Riyazul Islam frustasi. Dia harus membuktikan bahwa ibu dan dirinya adalah penduduk asli India dan bukan imigran ilegal dari Bangladesh. Kalau gagal, dia dan ibunya terancam terpisah dari keluarganya yang lain. Untuk membuktikannya, dia perlu dokumen kependudukan yang diterbitkan tahun 1951.

Bersama ibunya, pria 33 tahun ini masuk dalam daftar imigran ilegal bersama 4 juta orang lainnya. Padahal ayah dan saudara-saudara lainnya diakui sebagai penduduk India dan terdaftar dalam National Register of Citizens (NRC).  "Bapak saya India, kok saya tidak," keluhnya kepada economictimes yang menemuinya di Dhubri, salah satu kota di negara bagian Assam dekat Bangladesh. "Bukti apa lagi yang mereka minta?"

Penderitaan seperti itu sekarang jamak terjadi di Assam, dimana pemerintahh nasionalis Hindu mempercepat proses pendataan warga sejak berkuasa dua tahun lalu. Partai pimpinan PM Modi ini menjanjikan akan mengambil tindakan terhadap para imigran yang dituduh mencuri peluang dan sumberdaya dari penduduk lokal.

Pemerintah tidak memberikan detail siapa saja yang masuk dalam empat juta orang yang tidak diakui sebagai warga negara India. Namun diduga sebagian besar adalah minoritas Muslim, penutur bahasa Bengali. Mereka tinggal bersama mayoritas orang Hindu Assam dengan total populasi 33 juta orang. Mereka yang masuk dalam daftar empat juga kebanyakan miskin dan sebagian lagi korban salah eja dalam dokumen yang diajukan sebagai bukti warganegara India, berdasarkan penelitian yang dilakukan Reuters.

Sajida Bibi, ibu Islam korban dari persoalan salah eja ini. Dalam salah satu dokumen yang diserahkan untuk membuktikan status warganegara adalah surat pernyataan yang menerangkan kesalahan dalam perekamanan nama. Kesalahannya adalah namanya ditulis Sabahan Bibi dalam dokumen pencatatan penduduk tahun 1951. Surat pernyataan itu menyebutkan namanya adalah Sahajadi Begum seperti tertera dalam ijazah SD dan mengubah namanya menjadii Sajida Bibi paska pernikahan. Didepan pengadilan ibunya bersumpah bahwa tiga nama itu adalah orang yang sama. Namun pengadilan menolak.

Kasus yang sampai ke pengadilan lainnya adalah warga bernama Tajab Ali. Dia melampirkan sejumlah dokumen partisipasi pemilu yang menunjukkan dia warganegara India sejak 1966. Dia bercerita, pada dokumen partisipasi pemilu 1985, pencatatan namannya salah. Ditulis Tajap Ali, bukan Tajab Ali. Nama Ayahnya ditulis salah, Surman Ali Munshi, bukan Surman Ali. Pengadilan mengatakan, dokumen yang diajukan Ali tidak memiliki nilai pembuktian.

Reuters mencatat adad beberapa kasus serupa.

Perbatasan India dan Bangladesh yang panjangnya sekitar 4000 km banyak bolongnya. Lewat celah-celah itu, imigran keluar masuk, lebih-lebih saat perang yang memisahkan Bangladesh dari Pakistan yang didukung India tahun 1971. Untuk diakui sebagai warganegara India, penduduk Assam harus membuktikan lewat dokumen bahwa dirinya atau keluarganya sudah tinggal di negara itu sebelum 24 Maret 1971.

Tahun 2016 Pemerintah India mengatakan bahwa sekitar 20 juta imigran gelap Bangladesh tinggal di India. Aktivis yang mengajukan petisi untuk mengusir imigran di Mahkamah Agung pada tahun 2009 menduga lebih dari 4 juta dari mereka telah dimasukkan dalam daftar pemilih 2006 Assam.

"Selama 38 tahun, kami telah berjuang untuk melindungi bahasa, budaya, dan identitas orang pribumi kami di tanah air kami sendiri," kata Samujjal Bhattacharya, penasihat dari Serikat Mahasiswa All Assam (AASU), sebuah organisasi yang mempelopori kampanye menolak imigran gelap. "Ini bukan melawan Muslim, itu tidak melawan Hindu, itu tidak melawan Bengali," kata Bhattacharya. "Ini melawan warga Bangladesh ilegal. Ini soal warganegara dan bukan warganegara," tegasnya.

 

Editor: Rosyid

Rosyid
17-08-2018 19:50