Main Menu

Perusahaan Jepang Semakin Membuka Diri Pada Pekerja Asing

Rosyid
20-08-2018 10:47

Perakitan mobil di Jepang (REUTERS/Issei Kato/yus4)

Tokyo, Gatra.com - Banyak  perusahaan Jepang mendukung pelonggran sistem imigrasi  untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terbatas. Namun perusahaan-perusahaan itu lebih memilih pekerja dengan keahlian yang bisa mengisi posisi lowong, bukan pekerja kasar. Hal itu terungkap dari polling yang dilakukan Reuters.

Jepang mengalami masalah pasokan pekerja karena struktur demografinya yang menua. Problem ini sudah dirasakan sejak sejak pertengahan abad lalu. Saat itu, pemerintah membuka celah bagi imigran untuk pekerja di sektor pertanian, pabrik mobil atau toserba.

Namun sebagai masyarakat yang terbiasa homogen, pemerintah bersikeras tidak akan memberi ijin pekerja asing di area-area tertentu. Pemerintah juga mempertimbangkan aturan bahwa pekerja asing harus lulus tes tertentu untuk tidak menetap dan membawa keluarganya ke Jepang.

Polling bulanan Reuters menunjukkan 57 persen perusahaan Jepang baik besar maupun kecil yang mempekerjakan orang asing . 60 persen perusahaan ingin sistem imigrasi yang lebih terbuka. Dan hanya 38 persen yang memilih menerima pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Polling yang dilaksanaan Nikkei Research untuk Reuters berlangsung 1 - 14 Agustus yang melibatkan 483 pengusaha. Mereka menjawab secara anonim.

Beberapa perusahaan memandang pekerja kasar sebagai sumber untuk mendapatkan tenaga kerja murah, namun ada pula yang memepertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendidik dan mengelola mereka, apalagi jika dikaitkan dengan kendala bahasa dan budaya.

Jumlah orang asing di Jepang sudah naik duakali lipat dalam sepuluh tahun terakhir menjadi 1,3 juta orang, tapi masih tetap dibawah 2 persen dari total tenaga kerja. Padahal dinegara-negara maju proporsi pekerja asing lebih besar. Sebagai contoh, di Inggris, pekerja asing mencapai 10 persen dari total tenaga kerja. Di Singapura mencapai 38 persen dan 2 persen di Korea Selatan.

Sejumlah responden menghkhawatirkan soal keamanan dan stabilitas sosial. Mereka melihat kondisi di Eropa dimana masukkanya imigran menimbulkan bentrokan .

Sementara perusahaan yang lain menerangkan bahwa pekerja asing di perusahaannya adalah insinyur lulusan perguruan tinggi Jepang. "Kami menerima pekerja semacam itu dan menutup pintu untuk pekerja tanpa keahlian," kata manager perusahaan yang bergerak dibidan elektronik itu kepada Reuters.

Kesimpulan survei itu, perusahaan-perusahaan Jepang sedikit lebih terbuka menerima pekerja asing dibandingkan survei serupa Maret 2017.


Editor: Rosyid

Rosyid
20-08-2018 10:47