Main Menu

Survei Menyebut Konsumen Resah Pada Langkah Brexit Tanpa Penawaran

Birny Birdieni
31-08-2018 06:54

Ilustrasi.(REUTERS/Yves Herman/re1)

London, Gatra.com- Firma Growth from Knowledge (GFK) Inggris melansir bahwa indeks pengukuran kepercayaan konsumen Inggris kepada Komisi Eropa naik ke peringkat 7 pada Agustus ini dibandingkan dengan Juli lalu yang bertengger di peringkat ke-10. Menyamai peringkat tertinggi pada Maret dan Mei lalu.

 

Dengan demikian, tampak sedikit gangguan muncul bahwa konsumen Inggris khawatir akan kemungkinan langkah British Exit (Brexit) yang hadir tanpa sebuah penawaran. Survei pada Jumat (31/8) tersebut menunjukkan kalau mereka mengalami kecemasan.

"Kami hanya tersisa beberapa bulan lagi dari krisis Brexit. Tetapi tidak ada tanda (belum) kerusakan dari kepercayaan konsumen itu," kata Direktur Strategi Klien GfK, Joe Staton dilansir dari Reuters, Jumat (31/8).

Meski demikian, ekonom yang ikut dalam jajak pendapat Reuters sebagian besar berharap bahwa pembacaan peringkat indeks kepercayaan konsumen itu seharusnya tetap di posisi buncit ke-10. Atau tak ada kekhawatiran akan langkah perpisahan tersebut.

"Indeks inti terus kacau di wilayah negatif. Tetapi Armageddon  tampaknya prospek yang jauh," ungkap Staton.

Adapun dalam survei terpisah yang dilakukan Bank Lloyds menunjukkan gambaran berbeda di antara perusahaan. Mereka melansir bahwa kepercayaan bisnis pada Agustus ini turun enam poin ke titik terendah sejak tahun ini yang mencapai 23%.

Namun demikian survei Lloyds menemukan melemahnya niat mempekerjakan perusahaan dan harapan lebih lembut untuk pertumbuhan gaji.

Hal ini dipicu oleh kekhawatiran akan prospek perdagangan tahun depan  dan juga melesunya optimisme ekonomi. Kondisi tersebut Itu berbanding dengan tingkat kepercayaan perusahaan yang mencapai sekitar 40-50% sebelum referendum Brexit.

Kondisinya, keyakinan hanya stabil ada di kalangan produsen manufaktur. Sebab banyak di antara mereka telah melihat pesanan tahun ini naik dengan ekonomi global yang tumbuh lebih kuat.

"Kepercayaan bisnis menjadi lebih tangguh pada semester pertama tahun ini. Meski telah mereda kembali baru-baru ini," ungkap ekonom Lloyds, Hann-Ju Ho.

Kondisi ini dinilai Hann-Ju Ho sebagai perubahan persepsi dari risiko Brexit. “Ini menggarisbawahi pentingnya negosiasi UE-Inggris saat ini," katanya menegaskan.

Perdana Menteri Theresa May dan Kabinetnya sedang mencoba untuk memenangkan hati kepada pemimpin Uni Eropa akan rencana Inggris dalam menjaga perdagangan bebas untuk barang mereka di organisasi antarpemerintahan dan supranasional, yang beranggotakan negara-negara Eropa tersebut.

Namun ini masih menjadi sesuatu yang ditentang Komisi Uni Eropa. Sedangkan waktu perpisahan Brexit ini tinggal kurang dari tujuh bulan sebelum Inggris meninggalkan blok itu.

Bahkan pada bulan Juli lalu, dua menteri utama Kabinet May mengundurkan diri sebagai protes atas rencana tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan tentang kemampuan May dalam mendapatkan kesepakatan.

 


Birny Birdieni 

Birny Birdieni
31-08-2018 06:54