Main Menu

Dubes Wahid : Indonesia-Rusia Masih Kurang Saling Mengenal

Bernadetta Febriana
04-09-2018 05:51

Wahid Supriyadi memberikan sambutan civitas akademika Universitas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Saint Petersburg.(Dok. KBRI Moskow/re1)

St Petersburg, Gatra.com - Bunyi lonceng mini yang digemakan oleh civitas akademika Universitas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan Saint Petersburg yang dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. Alexander S. Zapesotsky, Sabtu (1/9) menandai dimulainya tahun ajaran baru di Rusia. Acara ini juga dihadiri oleh para guru besar, tamu undangan yang terdiri dari pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan diplomat, termasuk Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Wahid Supriyadi.

 

Wahid mendapatkan kesempatan untuk memberikan sambutan singkat dihadapan sekitar 900 mahasiswa dan para undangan. “Bercita-citalah menjadi apa saja yang diinginkan dan galilah ilmu setinggi-tingginya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Bukan tidak mungkin dalam waktu antara 30-40 tahun mendatang, kalian akan duduk di barisan VIP ini sebagai profesor, gubernur, walikota atau bahkan duta besar”, kata Wahid yang disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa baru.

 

Selain itu, mantan Dubes RI untuk UAE ini juga berkesempatan memberikan kuliah umum di depan sekitar 300 mahasiswa, bertajuk “Indonesia-Russia: From Soekarno-Khrushchev to Current Challenges”. Wahid membahas seputar hubungan bilateral kedua negara ditinjau dari sejarah pre-kemerdekaan sampai kondisi dunia saat ini dan tantangan yang dihadapi kedua negara.

 

Dubes Wahid mengatakan bahwa setelah masa keemasan pertama pada masa pemerintahan Soekarno di Indonesia dan Nikita Khrushchev di Uni Soviet, maka saat ini kedua negara memasuki masa keemasan kedua di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin. "Kita akui kedua negara mengalami masa stagnansi di masa Pemerintahan Orde Baru yang anti komunis, namun perlahan hubungan semakin membaik, khususnya sejak bubarnya Uni Soviet," ujarnya.

 

Menurut Wahid, kedua negara memiliki kesamaan aspek sebagai bangsa yang multi-etnis dan multi-agama, dengan luas wilayah yang sangat besar. Namun kedua negara dinilai kurang melakukan PR (Public Relations), sehingga kurang dikenal secara luas. “Banyak yang menganggap Rusia saat ini kelanjutan dari Uni Soviet dan orang Rusia lebih mengenal Bali daripada Indonesia” lanjutnya.

 

Untuk itu, Dubes RI mengajak kedua negara untuk lebih mempererat hubungan bukan saja di tingkat pemerintah, tetapi juga di tingkat bisnis dan masyarakat atau People to People. Festival Indonesia yang telah diselenggarakan 3 kali oleh KBRI Moskow didesain untuk itu dan hasilnya pun cukup nyata.

 

Hasilnya, lanjut Wahid, perdagangan kedua negara naik 25% menjadi USD 3,27 milyar dan turis Rusia meningkat 37% menjadi lebih dari 110 ribu orang tahun lalu. "Sebaliknya, lebih dari 20 ribu turis asal Indonesia telah berkunjung ke Rusia tahun yang sama atau meningkat lebih dari 300%”,ujarnya.


Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
04-09-2018 05:51