Main Menu

Begini Reaksi Dunia Pasca Penahanan Wartawan Reuters di Myanmar

Aries Kelana
04-09-2018 12:11

Ilustrasi (Shutterstock/FT02)

New York, Gatra.com -- Begitu pengadilan Myanmar memvonis dua wartawan Reuters dengan hukuman penjara 7 tahun, sejumlah reaksi bermunculan. PBB dan Amerika Serikat pun mengutuk hukuman tersebut. Reuters menegaskan akan menggalang dukungan internasional. Senin (3/9). 

Para pendukung kebebasan pers, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, dan negara-negara termasuk Amerika Serikat, Kanada dan Australia telah menyerukan pembebasan dua wartawan dari kantor berita Inggris tadi.

"Hari ini adalah hari yang menyedihkan bagi Myanmar, wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, dan pers di mana-mana," kata Pemimpin Redaksi Reuters Stephen J Adler dalam sebuah pernyataan.

“Kami tidak akan menunggu sampai Wa Lone (32 tahun) dan Kyaw Soe Oo (28 tahun) menderita ketidakadilan ini dan akan mengevaluasi bagaimana untuk melanjutkan berbagai usaha, termasuk apakah mencari pertolongan di forum internasional,” imbuh Adler.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mendesak pemerintah Myanmar untuk meninjau kembali keputusan mereka. Itu kata juru bicaranya, Stephane Dujarric.

"Tidak dapat diterima bahwa jurnalis ini dituntut karena melaporkan pelanggaran hak asasi manusia utama terhadap Rohingya di Negara Bagian Rakhine," katanya. Dujarric menambahkan bahwa Guterres akan terus mengadvokasi pembebasan mereka dan untuk "penghormatan penuh kebebasan pers dan semua manusia hak di Myanmar.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley menyerukan pembebasan segera kedua wartawan tanpa syarat.

"Jelas semuanya bahwa militer Burma telah melakukan kekejaman besar," bunyi pernyataan Haley.

Sehari sebelumnya, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo  dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia yang sudah ada sejak zaman kolonial. Kedua jurnalis tersebut didakwa mengumpulkan dan memperoleh dokumen rahasia berupa investigasi rahasia seputar kejahatan pemerintahan Myanmar. 

"Para terdakwa ... telah melanggar Undang-undang Rahasia Pasal 3.1.c, dan dijatuhi hukuman tujuh tahun," kata hakim seperti dikutup situs reuters.com, Selasa (4/9). Hukuman selama itu dipotong dengan masa tahanan, sejak keduanya ditangkap 12 Desember tahun lalu. Pihak pembela dapat mengajukan banding atas putusan ke pengadilan daerah dan kemudian kasasi di mahkamah agung.

Tekanan terus meningkat terhadap pemerintah pemenang Nobel Aung San Suu Kyi atas tindakan keras yang dipicu oleh serangan gerilyawan Muslim Rohingya terhadap pasukan keamanan di Negara Bagian Rakhine di Myanmar barat pada bulan Agustus 2017.

Sejak saat itu, menurut badan-badan PBB, lebih dari 700.000 warga Muslim Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan telah melarikan diri ke Bangladesh.

Kedua wartawan, yang sedang menyelidiki pembunuhan oleh pasukan keamanan warga desa Rohingya pada saat penangkapan mereka, telah menegaskan mereka tidak bersalah.

 

Selain 2 wartawan, lebih dari 80 orang, termasuk diplomat senior, dimasukkan ke pengadilan pada hari Senin tersebut.


Editor: Aries Kelana

 

Aries Kelana
04-09-2018 12:11