Main Menu

Sanksi Terhadap Iran Dituding Sebagai Penyebab Harga Minyak Naik

Hidayat Adhiningrat P.
10-09-2018 11:33

Ilustrasi - Harga minyak (Shutterstock/FT02)

Singapura, Gatra.com - Harga minyak naik pada perdagangan Senin (10/9). Hal ini diperkirakan terjadi karena pengeboran minyak Amerika Serikat (AS) untuk produksi baru menurun dan pasar melihat kondisi-kondisi yang lebih ketat ketika sanksi-sanksi Washington terhadap ekspor minyak mentah Iran dimulai pada November.

 

Dikutip dari Reuters, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), berada di harga US$67,96 per barel pada pukul 01.50 GMT. Harga ini naik 21 sen AS atau 0,3 persen dari penutupan terakhirnya.

Dikatakan oleh perusahaan jasa energi Baker Hughe, Jumat (7/9), perusahaan-perusahaan energi AS mengurangi dua rig pengeboran minyak pekan lalu, sehingga total menjadi 860 rig. Jumlah rig AS senidir mengalami stagnasi sejak Mei, setelah mengalami pemulihan sejak 2016.

Di luar Amerika Serikat, sanksi-sanksi baru terhadap ekspor minyak mentah Iran mulai November membantu mendorong harga. Konsultan energi FGE mengatakan, beberapa pelanggan utama Iran seperti India, Jepang dan Korea Selatan sudah mengurangi kembali minyak mentah Iran.

"Pemerintah bisa bicara keras. Mereka dapat mengatakan bahwa mereka akan membela Trump dan/atau mendorong untuk keringanan-keringanan (sanksi). Tetapi umumnya perusahaan yang kami ajak bicara mengatakan bahwa mereka tidak akan mengambil risiko," kata FGE.


Prospek Pasar Minyak Semakin Ketat

Dengan aktivitas rig AS yang menurun dan sanksi-sanksi terhadap Iran semakin dekat, prospek pasar minyak menjadi semakin ketat.

"Investor sebagian besar telah berubah positif lagi, kemungkinan menyambut kembalinya 'backwardation' (pembelian kontrak berjangka dengan harga lebih rendah dari biaya kontrak dengan penyerahan aset)," kata Edward Bell, analis komoditas di bank Emirat NBD.

"Backwardation" menggambarkan pasar di mana harga untuk pengiriman pertama lebih tinggi daripada harga untuk pengiriman kemudian. Hal ini dianggap sebagai tanda, bahwa kondisi yang ketat bisa memberikan insentif kepada pedagang untuk segera menjual minyak daripada menyimpannya.

"Backwardation" Brent antara Oktober tahun ini dan pertengahan 2019 saat ini sekitar 2,20 dolar AS per barel.

Sementara itu Washington juga memberikan tekanan pada negara-negara lain untuk memotong impor dari Iran. Pihaknya juga mendesak produsen utama lainnya untuk menaikkan produksi mereka agar tidak menciptakan lonjakan harga yang terlalu kuat.

Menteri Energi AS, Rick Perry, akan bertemu rekan-rekannya dari Arab Saudi dan Rusia masing-masing pada Senin dan Kamis (13/9). Trump akan meminta eksportir dan produsen terbesar dunia itu untuk mempertahankan kenaikan produksi mereka.

Konsultan FGE pun memperingatkan bahwa "perang dagang, dan terutama kenaikan suku bunga, dapat menimbulkan masalah bagi pasar negara-negara berkembang yang mendorong pertumbuhan permintaan minyak turun."

Meskipun demikian, FGE mengatakan kemungkinan penurunan harga minyak secara signifikan relatif rendah karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan mempertahankan produksi mereka untuk mencegah harga-harga jatuh.

"Kami melihat US$65 per barel sebagai pemicu untuk pemotongan (produksi)," kata FGE.


Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
10-09-2018 11:33