Main Menu

Ini Alasan Kenapa Pengawas Kompetisi Singapura Denda Aksi Merger Grab dan Uber

Birny Birdieni
24-09-2018 13:04

Ilustrasi.(Reuters/Edgar Su/re1)

 

Singapura, Gatra.com- Pengawas Kompetisi di Singapura mendenda kesepakatan merger penggabungan perusahaan angkutan online Grab dan Uber sebesar Singapura $13 juta. Dengan demikian memerintahkan Uber untuk menjual kendaraan dari bisnis penyewaan lokalnya ke saingan lain dengan membuat tawaran wajar.

 

Adapun Uber menanggung denda sebesar S$6,6 juta dan Grab S$ 6,4 juta akan merger yang dinilai membahayakan persaingan itu. Ia juga memerintahkan Grab untuk menghapus pengaturan eksklusivitasnya dengan pengemudi dan armada taksi.

Sebagai informasi, Uber Technologies Inc (UBER.UL) yang berbasis di Amerika Serikat menjual bisnisnya di Asia Tenggara ke Grab pada bulan Maret lalu. Sebagai gantinya, maka mereka mendapatkan pertukaran saham sebesar 27,5% di perusahaan yang berbasis di Singapura itu.

Hanya berselang beberapa hari setelah kesepakatan itu diumumkan, Komisi Persaingan dan Konsumen Singapura (CCCS) pun membuat langkah pengawasan hukum untuk meluncurkan penyelidikan.

"Merger yang secara substansial mengurangi persaingan ini dilarang. CCCS telah mengambil tindakan terhadap merger Grab-Uber, karena itu menghilangkan pesaing Grab terdekat, hingga merugikan pengemudi dan pengendara Singapura," Chief Executive CCCS Toh Han Li seperti dikutip dari Reuters, Senin (24/9).

Setelah kesepakatan, regulator mengatakan kalau tarif efektif di Grab naik 10% hingga 15%. Selain itu, perusahaan tersebut juga sekarang memegang pangsa pasar Singapura sekitar 80%.

Pihak CCCS juga memerintahkan Uber untuk menjual kendaraan agen sewa mobil Lion City Rentals yang berbasis di Singapura. Namun penjualan itu harus kepada setiap pesaing potensial dengan penawaran berdasarkan nilai pasar wajar.

Juga melarang Uber menjual kendaraan tersebut ke Grab tanpa persetujuan regulator. Per Desember lalu, armada Lion City mencapai 14.000 kendaraan.

Pihak Uber merespon dengan mengatakan pihaknya percaya bahwa keputusan CCCS didasarkan pada definisi pasar yang tidak tepat dan sempit. "Itu salah untuk menggambarkan sifat dinamis industri, dibandingkan kekhawatiran lainnya," katanya dalam sebuah pernyataan, meski mereka mengaku akan mempertimbangkan hal tersebut.

Adapun Grab mengatakan kalau pihaknya menyelesaikan transaksi dalam hak-hak hukumnya. Juga tidak dengan sengaja atau lalai melanggar undang-undang persaingan.

Grab menyebut akan mematuhi perbaikan yang ditetapkan oleh CCCS. Namun terkait dengan tarif, pihaknya menegaskan tidak menaikkan tarif sejak kesepakatan itu.

Lalu bagi pengemudi pun memiliki pilihan maksimum penuh. Semua pemain transportasi, termasuk operator taksi juga harus dikenai kondisi non-eksklusivitas.


Birny Birdieni

Birny Birdieni
24-09-2018 13:04