Main Menu

Angkatan Udara AS Belanja Heli Baru Rp 35,5 T

Rosyid
25-09-2018 10:52

Boeing MH-139 (Dok.Boeing)

Washington, Gatra.com - Angkatan Udara Amerika Serikat menunjuk Boeing sebagai pemenang tender proyek peremajaan helikopter pengawal situs rudasl balistik antar benua Amerika Serikat. 

 

 

Sebanyak 84 unit helikopter Boeing MH-139 akan mengggantikan helikopter UH-1N Huey yang sudah uzur. Helikopter itu nantinya bertugas menjaga silo rudal nuklir antar benua di Wyoming dan North Dakota, demikian diungkapkan Pentagon dan dikutip Bloomberg, Selasa (25/9). Pengiriman pertama untuk operasional diperkirakan mulai tahun fiskal 2021.

Seperti juga infrastruktur nuklir Amerika Serikat, helikopter Huey sudah puluhan tahun bertugas. Tipe UH-1N sudah digunakan sejak dekade 70-an, ketika militer Amerika Serikat mengandalkannya di Perang Vietnam. Meskipun uzur  UH-1N Huey punya peran penting mengawal fasilitas peluncuran rudal nuklir dari serangan. Juga berfungsi sebagai alat transportasi hulu ledak nuklir dari seluruh negeri. Helikopter ini juga bertugas melindungi pemimpin puncak Amerika Serikat keluar dari Washington DC jika terjadi bencana nuklir.

 

Produsen peralatan pertahanan yang berbasis di Arlington Virginia itu  mengalahkan rivalnya-rivalnya Lockheed Martin Corp. dan Sierra Nevada Corp. dalam proyek pengadaan helikopter senilai USD 2.38 miliar (Rp 35,5 triliun).

 

Penunjukan Boeing menyisakan kekecewaan mendalam bagi Lockheed Martin. Produsen sistem pertahanan terbesar didunia ini bahkan mengajukan protes resmi terhadap persyarata yang diberikan Angkatan Udara AS. Yaitu soal syarat lisensi software terkait helikopter harus diserahkan pada Angkatan Udara. Mei Lalu Kantor Akuntabilitas Pemerintah menolak protes itu.

Loren Thompson, konsultan pertahanan dari Lexington Institute, yang didanai oleh kontraktor pertahanan termasuk Boeing, mengatakan bahwa bahasa Angkatan Udara dalam pengumuman tender mengisyaratkan bahwa Angkatan Udara fokus pada upaya menurunkan harga daripada pada kemampuan baru yang wah. 

"Angkatan Udara terkenal di kalangan kontraktor militer karena mendorong penawar ke harga serendah mungkin pada pengadaan besar," kata Thompson kepada Washington Post.

Maka tidak heran jika pihak Angkatan Udara memuji kontrak ini sebagai kemenangan para pembayar pajak. "Persaingan yang kuat menurunkan biaya untuk program tersebut, menghemat USD 1,7 miliar," kata Kepala Departemen Angkatan Udara Heather Wilson dalam sebuah pernyataan. Semula proyek ini diperkirakan mencapai USD 4,1 miliar.


Rosyid

Rosyid
25-09-2018 10:52