Main Menu

Trump Serukan Penurunan Harga Minyak

Rosyid
26-09-2018 07:36

Presiden Donald Trump di gedung PBB, New York (REUTERS/Carlo Allegri/jh)

 

New York, Gatra.com  - Harga minyak mentah Brent melonjak ke titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, setelah Presiden AS Donald Trump mendesak OPEC untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya. Padahal tren kenaikan harga minyak mentah tidak lepas dari keputusan Donald Trump  menerapkan sanksi larangan ekspor minyak kepada Iran.

 

Dalam pidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump menegaskan kembali seruannya kepada Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memproduksi lebih banyak minyak dan menghentikan kenaikan harga.

Sebelumnya, harga minyak telah melonjak karena kekhawatiran tentang pasokan global sebagai akibat sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang akan berlaku mulai 4 November. Iran adalah negara eksportir minyak OPEC ketiga terbesar.  Meskipun sanksi belum diterapkan, pasokan minyak Iran sudah turun hingga 500.000 barrel perhari menurut data Badan Energi Internasional (IEA). Khawatir dengan kelanggkan pasokan, harga minyak Brent terkerek hingga angka 82,55 dolar AS per barel, tertinggi sejak 10 November 2014.

"Sulit untuk percaya bahwa Saudi tidak akan menjawab seruan (Trump) cepat atau lambat, terutama jika harga lebih tinggi," kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York. "Dia (Trump) akan terus menerus menekan mereka."

Kelompok OPEC+, yang mencakup Rusia, Oman dan Kazakhstan, bertemu akhir pekan lalu, untuk membahas kemungkinan peningkatan produksi minyak mentah, tetapi kelompok itu tidak terburu-buru untuk melakukannya.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak yang kuat sebesar 1,4 juta barel per hari (bph) tahun ini dan 1,5 juta barel per hari pada 2019, dan mengatakan dalam laporan terbarunya pasar sedang mengetat.

Persediaan minyak mentah AS diperkirakan menurun untuk enam minggu berturut-turut, menurut analis yang disurvei menjelang laporan dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, pada Selasa (25/9), dan dari Departemen Energi AS pada Rabu waktu setempat.


Rosyid/Antara

Rosyid
26-09-2018 07:36