Main Menu

Finalisasi Denuklirisasi, Korut dan Korsel Siap Bertemu Senin Depan

Birny Birdieni
12-10-2018 14:31

Menteri Unifikasi Selatan Cho Myoung-gyon dan Ketua Komite Reunifikasi Ri Son Gwon (YONHAP via REUTERS/jh)

 

Seoul, Gatra.com- Korea Utara dan Korea Selatan akan mengadakan pembicaraan tingkat tinggi pada Senin (15/10) mendatang di desa perbatasan Panmunjom. Kementerian Unifikasi Seoul mengatakan bahwa keduanya akan membahas langkah-langkah lanjut ke pertemuan puncak mereka baru-baru ini.

 

Pembicaraan terbaru akan berlangsung di sisi selatan Panmunjom dalam Zona Demiliterisasi dan dipimpin oleh Menteri Unifikasi Selatan Cho Myoung-gyon.

Pihak Korea Utara belum mengkonfirmasi delegasinya. Namun dalam sesi sebelumnya diwakili oleh Ri Son Gwon, ketua Komite untuk Reunifikasi Damai Negara yang bertanggung jawab atas urusan lintas batas.

"Melalui pertemuan tingkat tinggi, kami akan membahas cara-cara untuk menerapkan perjanjian Pyongyang secara keseluruhan dan menyelesaikan jadwal finalisasi pembicaraan lanjutan di masing-masing daerah," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Pengumuman ini muncul di tengah kekhawatiran AS bahwa hubungan antar-Korea mungkin memanas terlalu cepat dibandingkan dengan negosiasi untuk membongkar program nuklir dan rudal Korea Utara.

Kedua Korea sepakat dalam perjanjian itu untuk menghentikan latihan militer dan mendirikan zona larangan terbang di dekat perbatasan. Juga secara bertahap menghapus ranjau darat dan pos penjaga di dalam Zona Demiliterisasi.

Pada pertemuan ketiga mereka di Pyongyang bulan lalu, Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un setuju untuk melanjutkan kerja sama ekonomi jika persyaratan telah terpenuhi. Termasuk didalamnya relinking rel kereta api dan jalan.

Juga membuka kembali sebuah taman pabrik bersama. Serta tur ke resor Gunung Kumgang di Utara.

Moon dan Kim mengatakan bahwa keduanya akan mengundang para ahli internasional untuk mengawasi pembongkaran sebuah situs rudal dan menutup kompleks nuklir utama di Yongbyon jika Washington mengambil tindakan timbal balik.


Birny Birdieni/Reuters

Birny Birdieni
12-10-2018 14:31