Main Menu

Ganjaran Bagi Pasukan Perdamaian PBB yang Melakukan Pelecehan Seksual

Rosyid
06-12-2016 13:38

Bangui, GATRANews - Pasukan penjaga perdamaian PBB di Repbulik Afrika Tengah terindikasi melakukan pelecehan seksual dalam beberapa tahun terakhir.  Pelecehan dan eksploitasi seksual diduga dilakukan oleh anggota pasukan MINUSCA di Prefektur Kemo, Republik Afrika Tengah, tahun 2014 dan 2015.

 

Menurut juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Senin seperti dilaporkan Antara, Selasa (6/12), PBB mengidentifikasi 41 orang penjaga perdamaian dari Burundi dan Gabon sebagai tersangka dalam kasus pelecehan seksual.  Penyelidikan gabungan yang dilakukan selama empat bulan oleh Dinas Pengawasan Internal PBB (Internal Oversight Services/OIOS) dan penyidik nasional di Burundi dan Gabon mengumpulkan bukti pelanggaran yang dilakukan oleh 25 warga Burundi dan 16 warga Gabon yang bertugas di MINUSCA.

Saat ini PBB menyerahkan kewenangan kepada kedua negara anggota untuk melakukan penyelidikan tambahan dan menghukum warga mereka jika terbukti bersalah. Para tersangka telah meninggalkan Republik Afrika Tengah.

"PBB membagikan laporan OIOS dengan kedua negara anggota, termasuk nama-nama terduga pelaku yang diidentifikasi dan menuntut tindakan yudisial yang tepat untuk memastikan para pelaku bertanggung jawab," kata Dujarric.

Secara keseluruhan, 139 kemungkinan korban pelecehan seksual sudah diwawancarai, termasuk 25 anak-anak. Total delapan klaim ayah diajukan, termasuk oleh enam anak.

Tuduhan pertama pelecehan seksual mengemuka pada Mei 2016. PBB mendapat informasi mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh penjaga perdamaian tahun 2014 dan 2015 di Dekoa, Prefektur Kemo, tempat kontingen MINUSCA dari Burundi dan Gabon bertugas.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon memecat komandan MINUSCA tahun lalu di tengah banyaknya tuduhan pemerkosaan anak-anak perempuan di bawah umur. MINUSCA, yang meliputi sekitar 12.000 penjaga perdamaian, mengambil alih tugas dari pasukan Uni Afrika pada September 2014 karena negara itu masih menghadapi gelombang pertumpahan darah sektarian.

Republik Afrika Tengah, salah satu negara termiskin di dunia, hampir tidak lepas dari kekacauan perang sipil yang meletus tahun 2013 menyusul penggulingan mantan presiden Francois Bozize, oleh pemberontak dari koalisi Seleka.



Editor: Rosyid

Rosyid
06-12-2016 13:38