Main Menu

Meliput Pelantikan Presiden Oposisi, Dua Media Kenya Ditutup

Birny Birdieni
30-01-2018 16:36

Raila Odinga (Reuters/Baz Ratner/yus4)

Artikel Terkait

Nairobi, Gatra.com- Pihak berwenang Kenya telah menutup dua stasiun televisi milik swasta, NTV dan Citizen TV sebagai upaya mencegah liputan langsung upacara sumpah jabatan pemimpin oposisi Raila Odinga yang kalah dalam pemilihan presiden disengketakan tahun lalu.

 

Selasa (30/1) lalu, beberapa ratus pendukung berkumpul di sebuah taman di Nairobi tengah, di mana acara tersebut diadakan. Raila Odinga menolak kemenangan Uhuru Kenyatta. Kemenangannya tidak diakui oleh Odinga karena menurutnya dia dipilih oleh sebagian kecil negara tersebut.

 

Kenyatta menang pemilihan awal pada 8 Agustus lalu, namun hasilnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung karena dinilai tidak transparan dan terverifikasi.  Kenyatta kemudian memenangkan pemilihan berulang pada 26 Oktober dengan 98% suara. Namun pada faktanya suara yang memilihnya hanya di bawah 39%. Ia dilantik sebagai presiden baru negara itu pada bulan November lalu. Odinga kembali memboikot kemenangan tersebut.

 

Presiden Kenyata memperingatkan media agar tidak meliput acara tersebut dan Jaksa Agung mengatakan akan menahannya karena pengkhianatan. Citizen TV mengatakan kepada BBC bahwa pihak berwenang telah memaksa mereka keluar dari udara karena rencana untuk meliput pertemuan tersebut.

 

Salah seorang pendukung Odinga, Larry Oyugi mengatakan tidak ada yang ilegal mengenai acara tersebut. "Kami telah memberi tahu polisi dan kami juga sesuai dengan konstitusi. Konstitusi Kenya, artikel satu, memungkinkan semua warga Kenya untuk menjalankan kekuasaan mereka secara langsung," ia menegaskan.

 

Menurut Larry, hal ini yang kemudian membuatnya berkumpul di sana. Sesuai Pasal 37 diperbolehkan melakukan sidang damai. Sebagai warga negara memiliki hak berkumpul dengan damai dan memilih presiden sesuai konstitusi. 

 

Ketika pemungutan suara ulang dilakukan, Odinga mendesak pendukungnya untuk membatalkan karena menilai tak ada reformasi yang dilakukan komisi pemilihan. Konflik sengketa pemilihan tersebut telah membuat Kenya terbagi. Sekitar 50 orang dilaporkan terbunuh dalam kekerasan sejak pemungutan suara Agustus lalu itu.

 


 Editor : Birny Birdieni 

Birny Birdieni
30-01-2018 16:36