Main Menu

Sudan, Badak Jantan Putih Utara Terakhir di Dunia Mati

Sandika Prihatnala
20-03-2018 16:47

Sudan, salah satu Badak tertua semasa hidupnya. (REUTERS/Thomas Mukoya/FT02)

Nairobi, Gatra.com - Satu dari tiga ekor Badak Putih terakhir di dunia mati. Dikutip dari Reuters Selasa (20/3) tim dokter balai konservasi Oi Pejeta menyuntik mati Sudan pada Senin (19/3) karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

 

Usia Sudan telah mencapai 45 tahun hingga akhirnya mati. Di usianya yang terbilang tua, kondisinya tubuhnya menurun. Diantaranya fungsi otot dan tulang. Badak itu menghabiskan dua minggu di akhir Februari dan awal Maret berbaring di kandang karena ketidaknyamanan akibat luka yang dalam di kaki kanannya. Dalam 24 jam terakhir, kondisinya semakin menurun. Sudan tak lagi sanggup berdiri.

Tim dokter hewan dari Kebun Binatang Dver Kralove, Ol Pejeta dan Kenya Wildlife Service membuat keputusan untuk menidurkan dia. Badak putih jantan terakhir di dunia itupun dinyatakan telah meninggal dunia. Dengan kematiannya, hanya menyisakan dua wanita subspesies yang hidup di dunia meskipun para ilmuwan masih berharap bisa menyelamatkannya dari kepunahan.

“Kondisinya memburuk secara signifikan dalam 24 jam terakhir,” kata tim dokter.

Sudan sebelumnya pernah tinggal di Dver Kralove Zoo di Republik Ceko sebelum dibawa ke Ol Pejeta Conservancy, sekitar 250 km (utara) di Nairobi. Dia tinggal dengan dua betina terakhir dari spesies yang sama. Najin berusia 27 tahun dan Fatu 17 tahun.

Di tempat ini, tim berusaha membuat Sudan kawin secara alami. Namun segala upaya yang dilakukan gagal. Bahkan, Sudan sempat dicarikan jodoh melalui aplikasi kencan Tinder, dengan harapan bisa menggalang dana demi membayar perawatan kesuburan yang membutuhkan setidaknya biaya senilai US$ 9 juta.

Oi Pejeta sempat mengumpulkan materi genetik Sudan sebelum kematiannya. Materi itu, diharapkan bisa digunakan di masa depan untuk melakukan fertilisasi in vitro, atau lebih dikenal dengan proses bayi tabung.

Badak Putih Utara diambang kepunahan akibat perburuan. Tanduknya di pasaran bisa mencapai US$50.000 per kilo, membuat mereka lebih berharga daripada emas. Kenya memiliki 20.000 badak pada tahun 1970-an, turun menjadi 400 pada tahun 1990-an. Sekarang hanya sekitar 650, yang hampir semuanya badak hitam. Sementara ada ribuan badak putih selatan yang masih berkeliaran di dataran sub-Sahara Afrika.


Editor : Sandika Prihatnala

Sandika Prihatnala
20-03-2018 16:47