Main Menu

Pengalaman Wartawan Antara Ditahan Tentara Mesir

Dani Hamdani
17-08-2013 09:30

Polisi Mesir Melakukan Razia Warga (REUTERS/Stringer)Kairo, GATRAnews - Aparat keamanan Mesir memperketat keamanan dengan merazia warga negara asing (WNA) termasuk wartawan Antara yang sempat ditahan selama sekitar tiga jam menjelang salat Jum`at (16/8) di Kairo. Munawar Saman Makyanie kemarin siang itu hendak salat Jum`at di Masjid Al Azhar di Distrik Hussein dan sedianya berencana akan meliput aksi unjuk rasa pendukung presiden terguling Mohamed Moursi di Bundaran Ramses, pusat kota Kairo.
 

Namun, ketika melintas di Jalan Salah Salim --salah satu jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional dan pusat kota Kairo-- Munawar mengambil gambar barisan tank tempur.
 
Sebetulnya, Ia sudah minta izin kepada seorang tentara di sekitarnya untuk memotret pasukan tank tersebut, namun saat menjepret, seorang perwira berteriak dari jauh, "mamnu` tashwir" (dilarang motret) sambil berlari mendekat.
 
Tanpa bertanya, perwira berpakaian tentara dan memegang alat komunikasi itu langsung menarik tangan Munawar dan dibawa masuk ke sebuah mobil patroli.
 
Di dalam mobil, sudah ada empat warga asing berkulit putih, dua warga Afrika dan seorang berwajah Arab.
 
Munawar sempat bertanya kepada para warga asing itu, apakah mereka juga wartawan, namun seorang wanita bule yang duduk di samping Munawar menjawab bahwa dia dan tiga temannya adalah turis, ditahan karena melanggar jam malam.
 
Ketika bertanya lebih lanjut, mereka dari negara mana saja, seorang petugas tiba-tiba membentak, "uskut!" (diam).
 
Petugas juga menyita telepon seluler wartawan Antara saat sedang menghubungi Atase Pertahanan KBRI Kairo Kolonel (Marinir) Ipung Purwadi, begitu pula kamera.
 
Sebelum mobil patroli tentara yang mengangkut kami itu hendak bergerak ke arah entah kemana, mata dan wajah kami ditutup dengan kain hitam.
 
Sekitar satu jam perjalanan, kami diturunkan di suatu tempat, dan secara terpisah di ruang berbeda, kami diinterogasi oleh petugas.
 
Seorang pria berpakaian sipil berwajah angker menginterogasi dengan beragam pertanyaan memojokkan.
 
Di ruang sebelah, terdengar suara bentakan keras oleh petugas berbahasa Arab.
 
Di tengah interogasi, tiba-tiba datang seorang pria berpakaian rapi dengan senyum ramah, meminta Munawar untuk ke ruang tamu. "Mohon maaf, ini hanya salah pengertian saja. Bapak Munawar Saman Makyanie boleh kembali ke rumah," kata pria berdasi itu sambil menyerahkan telepon seluler dan kamera, tapi memory card kamera sudah dicopot.
 
Munawar pun diantar kembali ke tempat semula, Jalan Salah Salim, dalam posisi mata dan wajah kembali ditutup dengan kain hitam. (Dh) {jcomments on}

Dani Hamdani
17-08-2013 09:30