Main Menu

Sekjen PBB: Kematian Qaddafy Transisi Bersejarah di Libya

Edward Luhukay
21-10-2011 07:27

Pistol Emas yang Diduga Milik Muammar Qaddafy (REUTERS/Thaier al-Sudani)New York - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki-moon berpendapat, kematian pemimpin Libya Muammar Qaddafy sebagai momen bersejarah bagi rakyat Libya.

Pada awal pidato yang disampaikannya pada panel tentang Global Sustainability di Markas Besar PBB, New York, Kamis (20/10), Ban mengatakan, "Anda semua telah melihat laporan (media) tentang kematian Kolonel Muammar al-Qaddafy dan berakhirnya pertempuran di Sirte dan kota-kota lain. Tentunya hari ini merupakan transisi yang bersejarah bagi Libya."

"Dalam beberapa hari mendatang, kita akan menyaksikan perayaan, juga kesedihan bagi mereka yang kehilangan," tambahnya.

Menurut Ban, kematian Qaddafy merupakan "akhir dari permulaan" karena jalan yang akan ditempuh rakyat Libya pada masa depan akan sukar dan penuh dengan tantangan.

Ban mengajak semua pihak di Libya untuk bersatu padu guna mewujudkan masa depan yang lebih baik melalui kesatuan nasional dan rekonsiliasi. "(Sekarang) semua pihak harus meletakkan senjata dengan damai. Ini merupakan masa untuk penyembuhan dan membangun kembali, untuk semangat kemurahan hati, bukan untuk pembalasan dendam," ujarnya.

Di tengah persiapan yang dilakukan oleh pihak berwenang Libya untuk menyelenggarakan pemilihan umum serta berbagai rencana pembangunan menuju bangsa yang baru, Ban mengingatkan agar semua pihak dilibatkan. "Semua warga Libya harus terwakili dalam pemerintah dan kepemimpinan. Harapan yang selalu disuarakan pada masa-masa revolusi dan konflik harus diwujudkan melalui kesempatan-kesempatan serta keadilan bagi semua," katanya.

Ban mengungkapkan bahwa dirinya, Kamis (20/10), telah berbicara dengan utusan khususnya untuk Libya, Ian Martin, yang tengah berada di ibukota Libya, Tripoli. "Misi PBB untuk Libya ada di lapangan dan siap membantu Libya dan rakyatnya dalam melangkah ke depan," kata Ban.

Qaddafy dilaporkan tewas pada Kamis (20/10) pagi waktu setempat di kota kelahirannya, Sirte, yang belakangan ini menjadi pertahanan terakhir Qaddafy dalam menghadapi kepungan pasukan Dewan Peralihan Nasional Libya (NTC).

Qaddafy dilaporkan tewas dalam serangan pasukan NTC pada hari yang sama.

Serangan ke Sirte itu juga dilaporkan menewaskan putra Qaddafy, Mo`tassim Qaddafy, dan mantan menteri pertahanan Abu Bakr Yunis Jabar. [EL, Ant]

 

Edward Luhukay
21-10-2011 07:27