Main Menu

Mantan Bos Intelijen Qaddafy Diduga Bersembunyi di Niger

Edward Luhukay
21-10-2011 09:01

Pasukan Loyalis Qaddafy Ditangkap (REUTERS/Thaier al-Sudani)Paris - Menteri Luar Negeri Niger Mohammed Bazoum mengatakan, Kamis (20/10), bahwa dirinya telah diberi informasi oleh negara-negara Barat bahwa bekas kepala intelijen Libya di bawah Muammar Qaddafy, Abdullah al-Senussi, telah melarikan diri melintasi perbatasan ke bagian utara Niger yang (cuacanya) ekstrim.

Senussi telah dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) karena kejahatan terhadap kemanusiaan.

Senussi, saudara ipar laki-laki mantan pemimpin Libya yang tewas pada Kamis (20/10) itu, telah dituduh memerintahkan pembunuhan dan penganiayaan warga sipil di Libya pada saat runtuhnya pemerintahan 42 tahun Qaddafy tahun ini.

"Tampaknya ia berada di bagian utara Niger yang ekstrim. Negara-negara Barat yang memberi informasi kami," kata Mohammed Bazoum pada Reuters melalui telpon dari Niger.

Inggris menjadi negara pertama yang memberi informasi mengenai tempat keberadaan Senussi, tapi informasi itu telah diperkuat oleh pemerintah-pemerintah Barat lainnya, kata Bazoum.

Satu sumber diplomatik Barat di Paris memastikan Senussi diperkirakan bersembunyi di bagian utara Niger yang terpencil dan tidak patuh pada hukum.

Bazoum mengatakan bahwa, mengingat sifat wilayah itu yang terpencil, sangat sulit bagi pemerintah di Niamey untuk memastikan kebenaran informasi itu.

Puluhan pendukung setia Qaddafy, termasuk salah seorang anak laki-lakinya, Saadi, telah melarikan diri ke Niger pada September dan dilindungi di Niger.

Niger menolak permintaan agar mereka diserahkan pada pemerintah baru Libya, mengatakan Tripoli dapat mengirim penyelidik jika ingin menginterogasi mereka.

Bazoum mengatakan bahwa kematian Qaddafy pada Kamis (20/10) belum mengubah sikap Niamey. Bazoum menyebutkan, sebuah resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mencegah Saadi untuk melakukan perjalanan. "Belum ada permintaan resmi untuk mengekstradisinya," kata Bazoum.

Badan kepolisian internasional Interpol pada Kamis (20/10) meminta putra Qaddafy lainnya, Saif al-Islam, untuk menyerahkan diri, menawarkan untuk menjamin perjalanannya yang aman ke Den Haag guna menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Beberapa pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC), bekas badan politik pemberontak yang sekarang memerintah Libya, mengatakan, Kamis (20/10), bahwa mereka tidak tahu apakah Saif al-Islam sudah tewas atau masih hidup. [EL, Ant]

 

Edward Luhukay
21-10-2011 09:01