Main Menu

Presiden Guinea-Bissau Meninggal

Edward Luhukay
10-01-2012 09:47

Malam Bacai Sanhá (REUTERS/Morteza Nikoubazl)Bissau - Presiden Guinea-Bissau Malam Bacai Sanhá meninggal dunia, Senin (9/1), di sebuah rumah sakit di Paris, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai pergolakan baru perebutan kekuasaan di negara yang dilanda kemelut di Afrika Barat itu.

Kondisi kesehatan Sanhá memburuk sejak memangku jabatan pada 2009.

Sanhá meninggalkan Guinea-Bissau pada akhir November 2011 untuk berobat ke luar negeri.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Dakar, Senin (9/1), memperingatkan warganya bahwa ada "peningkatan potensi ketidakstabilan politik dan kerusuhan militer atau bentrokan antar-warga" sebagai akibat dari laporan mengenai meninggalnya Sanhá.

Negara pantai itu memiliki reputasi buruk sebagai persinggahan kokain yang akan diselundupkan ke Eropa dari Amerika Selatan dan telah mengalami beberapa kudeta sejak kemerdekaannya dari Portugal pada 1974.

"Dengan sedih dan duka, kantor presiden melaporkan kepada rakyat Guinea-Bissau dan kepada masyarakat internasional meninggalnya Yang Mulia Presiden Malam Bacai Sanhá pagi ini, 9 Januari, di Val de Grace Hospital, tempat ia sedang dirawat," demikian antara lain isi pernyataan kantor kepresidenan Guinea-Bissau.

Kantor itu tak mengungkapkan penyebab kematian Sanhá, tapi presiden yang berusia 64 tahun tersebut diduga menderita diabetes. Dan satu sumber Kementerian Luar Negeri Guinea-Bissau mengatakan kepada Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa (10/1) pagi-- Sanhá ditempatkan dalam kondisi koma buatan selama perawatannya di Paris.

Presiden Senegal Abdoulaye Wade berpendapat, meninggalnya Sanhá dapat memicu kerusuhan di Guinea-Bissau dan mengundang faksi bersenjata untuk bergabung dalam upaya penengahan di Senegal. Berbagai kelompok yang bertikai dalam militer Guinea-Bissau telah berulangkali terlibat bentrokan pada masa lalu.

"Kami khawatir dengan kematian ini, berbagai faksi akan bentrok," kata Wade kepada Reuters.

"Senegal tertarik pada kestabilan di Guinea-Bissau. Letakkan senjata kalian, datang lah ke Senegal dan habiskan waktu untuk melakukan pembahasan satu sama lain," katanya.

Presiden Burkina Faso Blaise Compaoré juga telah menerima permintaan dari Uni Afrika untuk menengahi kesepakatan perdamaian antarfaksi yang bertikai di Guinea-Bissau setelah baku-tembak meletus di ibukota negeri itu, Bissau.

Jalan-jalan di ibukota negara pantai tersebut tenang pada Senin (9/1) malam, tapi ketegangan terasa. [EL, Ant]

 

Edward Luhukay
10-01-2012 09:47