Main Menu

Peluang Bisnis Motor "Djakarta" di Senegal

Dwitri Waluyo
14-02-2012 16:17

 Ojek Djakarta di Senegal (Dok. Rheinhard Sinaga)Dakar - Perayaan Maulid Nabi di daerah Tivaouane, sekitar 90 km di luar kota Dakar, Senegal dilaksanakan Minggu (4/2-2012). Ratusan ribu umat Islam hadir dalam perayaan tesebut.  Ikut pula hadir Menteri Dalam Negeri sebagai wakil pemerintah, beberapa menteri lainnya, korps diplomatik, dan juga dihadiri oleh Duta Besar Indonesia di Dakar, Senegal, Andradjati.

Di tengah lalu lalang warga yang merayakan Maulid, ada pula pemandangan yang cukup istimewa. Yakni, kehadiran "Djakarta". Inilah sebutan sepeda motor di Senegal dan Mali.

Bagi warga Tivaouane, motor "Djakarta" yang berseliweran merupakan pemandangan yang jamak. Sepeda motor, yang sebagian besar merupakan produk Cina ini, dipakai sebagai alat transportasi di kota suci umat Tidianiya ini.

Dari informasi yang diperoleh dari warga Dakar, nama "Djakarta" dipakai untuk menyebut moda transportasi sepeda motor di Senegal. Dahulu, alat angkut motor ini sebagian besar diimpor dari Jakarta, hal ini menjelaskan kenapa ejaan "Djakarta" masih menggunakan ejaan lama ‘Dj’ bukan ‘J’. Sehingga para pemakai motor menyebut motornya dari "Djakarta", lalu kemudian berkembang menjadi motor "Djakarta". Indonesia pernah menjadi pengekspor motor terbesar ke kawasan Afrika Barat di era 80-90an, namun kalah bersaing dengan motor buatan Cina.

Mantan duta besar Mali untuk Indonesia yang berkedudukan di Tokyo, Maemunnah, kali pertama mengenal Indonesia justru dari motor "Djakarta" yang ada di Mali. Informasi tersebut diperoleh dari Maemunnah, yang disampaikan kepada Andradjati, ketika masih menjabat sebagai Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Menurut Maemunnah, Presiden Mali berencana akan kembali mengimpor motor dari Indonesia. Hal ini, tentu saja menjadi peluang bisnis menarik. Eksportir motor Indonesia, berkesempatan menjual produk kendaraan roda dua ke Mali dan negara-negara di wilayah Afrika Barat lainnya.

Kini, model transportasi motor "Djakarta" ini memiliki peran penting bagi masyarakat di sana. Motor menjadi kendaraan untuk bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Afrika Barat, antara lain seperti Senegal dan Mali. Maklum saja,  kemacetan yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. "Djakarta" menjadi pilihan yang tepat daripada transportasi mobil, apalagi di waktu jalanan sedang macet.

Di Tivaouane, transportasi motor "Djakarta" dipakai untuk mencari rezeki nomplok sebagai ojek untuk mengangkut penumpang dengan biaya yang jauh lebih murah daripada taxi. Apalagi pada saat perayaan Maulud, di mana umat yang merayakan berjumlah ratusan ribu orang menyemuti kota.

Menurut cerita tukang ojek motor di Tivaouane, dalam pada kondisi normal, biasanya sekali jalan penumpang membayar ongkos sebesar francs 200 (setara dengan Rp 4000, dengan asumsi francs 1 = Rp 20), tapi pada saat perayaan Maulud kemarin, penumpang bisa membayar sampai dengan francs 600 per angkut. Rata-rata penghasilan tukang ojek bisa mencapai francs 25000 per hari, dan dari jumlah itu para tukang ojek harus menyetorkan francs 2000 kepada pemilik motor "Djakarta" dan menikmati sisanya.

Menurut tukang ojek, kalau penumpang lagi banyak, bisnis ojek menjadi sangat menggiurkan. Apalagi seperti pada saat hari-hari besar di mana orang banyak membutuhkan ojek, mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar dan bisa ditabung untuk membeli motor "Djakarta" tanpa meminjam kepada pemilik, bahkan mereka bisa hidup layak dengan penghasilan ngojek.

Ternyata bisnis ojek di Senegal dan Jakarta tak jauh berbeda. [Rheinhard Sinaga, KBRI Dakar] {jcomments on}

 

Dwitri Waluyo
14-02-2012 16:17