Main Menu

Obama Akui Rasisme masih Jadi 'Kutukan' di Amerika Serikat

Dani Hamdani
22-06-2015 13:09

San Fransisco, GATRANews - Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan bahwa penembakan di gereja masyarakat kulit hitam Carolina Selatan adalah contoh "kutukan" rasisme, yang belum hilang dari negaranya. Seorang pria bersenjata yang disebut polisi dengan orang kulit putih berusia 21 tahun, menembak mati sembilan warga kulit hitam anggota jemaat gereja Gereja Afro Amerika Emanuel di Charleston ini.

 
Obama pada Jumat malam, di depan pertemuan wali kota Amerika Serikat, juga membantah tuduhan bahwa dia mempolitikkan tragedi di Gereja Charleston untuk mewacanakan undang-undang anti-senjata.
 

"Dalih pelaku penembakan mengingatkan kita akan masih ada kutukan rasisme, yang harus diperangi bersama," kata Obama.
 

Di sisi lain, Obama menyebut sejumlah penembakan lain di Amerika Serikat, seperti, di sekolah kota Newtown, Connecticut, dan di bioskop kota Aurora, Colorado.
 

Menurut Obama, sejumlah penembakan itu menunjukkan pentingnya reformasi undang-undang pembatasan kepemilikan senjata. Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat merupakan negara yang menjamin hak warga untuk memiliki senjata.
 

"Kita harus terus memperdebatkan persoalan ini tanpa harus mencela semua pemilik senjata yang patuh terhadap hukum. Namun demikian, kita juga harus membuang jauh setiap perdebatan yang ingin mencabut semua hak kepemilikan senjata," kata dia.
 

Obama sendiri sudah mendesakkan agenda pembatasan penjualan senjata sejak insiden penembakan sekolah di Newtown pada 2012 lalu. Namun dia kalah oleh kekuatan lobi politik senjata dan gagal meyakinkan Kongres.
 

Dengan menyebut 11.000 warga Amerika Serikat yang tewas akibat kekerasan bersenjata sejak 2013, Obama berargumen bahwa reformasi yang pernah dia usulkan bisa mencegah sebagian dari kekerasan tersebut.
 

"Kita tidak menyaksikan pembunuhan dalam skala sebesar ini, dengan frekuensi sesering ini, di semua negara maju di atas bumi ini," kata dia.

 
"Setiap negara mempunyai warga dengan mental yang tidak stabil, suka kekerasan, ataupun penyebar kebencian. Yang membedakan negara satu dengan lainnya adalah, bahwa tidak setiap negara mengizinkan peredaran senjata dengan mudah," kata dia seperti dilaporkan Antara.

 
Obama sendiri tidak yakin bahwa Kongres akan mengagendakan undang-undang pembatasan senjata dalam waktu dekan ini. Namun demikian, dia percaya opini publik akan berubah dan memaksa para wakil rakyat untuk bertindak.
 

"Saya menolak untuk menilai bahwa (penembakan) adalah kenormalan baru, atau hanya bersedih atas insiden ini. Saya juga menolak tuduhan bahwa setiap tindakan untuk menghentikan ini merupakan politisasi persoalan," kata Obama dikutip Reuters.

Editor: Dani Hamdani  
Dani Hamdani
22-06-2015 13:09