Main Menu

Insiden Karpet Merah Obama di Tiongkok

Dani Hamdani
08-09-2016 11:00

Presiden AS Barack Obama (AFP Photo/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G20) di Hangzhou, China, sudah berakhir Selasa lalu (6/9/16), namun perdebatan dan pro kontra terkait "insiden karpet merah Obama" masih saja jadi pembicaraan. Ketidak hadiran karpet merah dan tangga besi yang digunakan saat penyambutan Presiden Amerika Serikat Barack Obama setiba di Hangzhou, dinilai paa analis sebagai penghinaan diplomatik ala Beijing pada Amerika.

 

 

Obama tiba Sabtu (3/9) siang, ia turun dari pesawat Air Force One melalui tangga besi yang jarang digunakan. Bukan tangga berkarpet merah yang juga diberikan untuk pemimpin negara lain.

 

Menurut Straits Times, Obama akhirnya menuju karpet merah, namun perlakuan berbeda itu serta argumen petugas AS dan China mengenai protokol keamanan, menimbulkan pertanyaan apakah ini hanya kesalahpahaman atau memang sebuah penghinaan.

 

Pakar hubungan AS-China dari Fudan University di Shanghai, Shen Dingli, menyatakan rekam jejak China dan kecenderungan untuk memastikan protokol tepat dilaksanakan, terutama untuk pimpinan tinggi negara lain, menunjukkan perlakuan tersebut bisa jadi merupakan hinaan yang disengaja.

 

Menurut Shen, kemungkinan alasan perlakuan tersebut adalah ketidaksukaan terhadap dukungan AS untuk pengadilan Den Haag yang menolak klaim China terhadap Laut China Selatan serta terkait sistem pertahanan rudal di Korea Selatan.

 

“AS seharusnya paham mereka telah membuat China kesal,” kata Shen, dikutip dari Strait Times.

 

Sementara itu Jorge Guajardo, mantan duta besar Mexico untuk China, menyatakan berdasarkan pengalamannya menyambut presiden Mexico di Beijing, perlakuan untuk Obama tersebut membuat dirinya yakin merupakan “bagian hinaan yang dipersiapkan” dan mungkin juga “kartu nasionalis” yang dimainkan oleh Presiden China Xi Jinping.

 

“Itu hinaan. Cara untuk mengatakan ‘kau tahu, kau tidak seistimewa itu buat kami’. Ini bagian dari arogansi baru, mendorong nasionalisme China,” kata Guajardo seperti dikutip The Guardian.

 

Tetapi, pakar China-Korea Yu Yingli, dari Shanghai Institute of International Affairs, mengatakan China tidak akan memberi hinaan, namun itu adalah cara lain untuk menunjukan keberatan terhadap AS.

 

“Menariknya, AS dulu tidak begitu terpaku dengan protokol, tetapi sekarang tampaknya sangat terpengaruh. Apakah ini artinya AS kurang percaya diri?” kata Yu seperti dilaporkan Antara.

 

Surat kabar Hong Kong South China Morning Post, mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri China yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa AS memutuskan untuk tidak menggunakan tangga.

 

“China menyediakan tangga untuk setiap kepala negara, namun AS memprotes pengemudi tidak bisa bahasa Inggris dan tidak mengerti instruksi keamanan dari AS,” kata juru bicara tersebut.

 

China juga dikabarkan menawarkan jasa penerjemah untuk duduk di sisi pengemudi namun ditolak dan AS berkerass tidak memerlukan tangga yang disediakan pihak bandar udara.

 

Sementara itu, analis di Singapura Li Mingjiang menilai insiden karpet merah dan argumen petugas China dan AS merupakan “masalah kecil dan tidak signifikan” yang tidak akan memengaruhi hubungan kedua negara.

 

“Hal kecil seperti ini bisa terjadi saat kunjungan pemimpin ke negara mana pun,” kata dia.

 

Obama menyatakan dia tidak kesal berlebihan mengenai masalah ini dan insiden tersebut terjadi di kunjungan mana pun, ketika dimintai tanggapan saat jumpa pers dengan PM Inggris Theresa May.

 

“Kadang ketika delegasi (negara lain) datang ke AS, terkadang ada masalah dengan prosedur keamanan dan protokol kami yang membuat mereka jengkel, tapi tidak selalu dilaporkan,” tambah dia.


Editor: Dani Hamdani  

Dani Hamdani
08-09-2016 11:00