Main Menu

Debat Capres Hillary Clinton Vs Donald Trump Baku Serang Soal Rasisme

Dani Hamdani
27-09-2016 10:15

Donald Trump dan Hillary Clinton (AFP/Paul J Richards/HR02)

Jakarta, GATRANews - Debat pertama Capres Amerika Serikat dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan Donald Trump langsung dibuka dengan isu panas saling sodok soal isu rasialis. Debat 90 menit yang dimulai pukul 21.00 itu Senin (26/9), di Hofstra University, Long Island, New York itupun segera berbalas jawaban tak kalah galak dari Trump.

 

Hillary menuding Donald Trump punya sejarah panjang berprilaku rasis. "Dia benar-benar mengawali kegiatan politiknya dengan dusta rasis yang menyebut presiden kulit hitam kita bukan warga negara Amerika Serikat. Jelas tak ada bukti. Tapi dia bersikukuh, terus menerus dari tahun ke tahun," kata Clinton.

 

Trump menimpali dengan "tidak ada yang memaksa soal itu, tidak ada yang benar-benar perduli soal itu...Sayalah yang membuat dia (Obama) membuat akta kelahiran dan saya kira itu baik."

 

Obama, kelahiran Hawaii, pada 2011 menyebarluaskan akta kelahiran untuk menutup isu tersebut. Baru bulan ini Trump secara publik mengemukakan dia yakin Obama lahir di Amerika Serikat.

 

Trump juga mengatakan ke Hillary, seperti dilaporkan Antara, "Kalau kau sok lebih suci, kau bakal gagal."

 

Debat pertama dari tiga serial debat yang direncanakan antara bekas menteri luar negeri berusia 68 dari Partai Demokrat dan milyuner dari Partai Republik berusia 70 itu sudah menarik perhatian di tingkat nasional maupun internasional enam pekan menjelang pemilihan presiden 8 November.

Jajak pendapat menunjukkan kedua kandidat bersaing ketat. Hasil jajak perndapat terkini Reuters/Ipsos menunjukkan Clinton unggul empat poin persentase dengan dukungan 41 persen pemilih.

 
Debat ini bisa menggoyang pemilih yang belum membuat keputusan dan pemilih independen yang belum menetapkan pilihan, demikian juga dengan pemilih kedua partai yang sampai sekarang belum memutuskan.


Jajak pendapat kedua Reuters/Ipsos yang dirilis Senin menunjukkan separuh warga Amerika Serikat yang punya hak pilih akan mengandalkan debat untuk membantu mereka membuat pilihan.

Lebih dari 61 persen mengharapkan debat sipil dan tidak tertarik pada kepahitan yang terlihat selama kampanye.

Jumlahnya pemirsa siaran debat itu diperkirakan bersaing dengan 80 juta warga Amerika yang menyaksikan pertemuan antara presiden dari Partai Demokrat Jimmy Carter dan Ronald Reagan dari Partai Republik tahun 1980. 

Beberapa komentator memperkirakan jumlah pemirsanya seukuran dengan penonton Super Bowl sekitar 100 juta orang.

Kontras dengan debat partai yang diselenggarakan selama kontes nominasi Partai Demokrat dan Republik, penonton akan diminta diam dan tidak bertepuk tangan atau merespons pernyataan para kandidat dalam debat yang akan dibagi menjadi enam segmen 15 menit.

Clinton menang dalam lemparan koin dan memilih pertanyaan pertama. Dia akan diberi waktu dua menit untuk menjawab dan sesudahnya Trump akan diberi waktu yang sama. Trump selanjutnya akan diberi pertanyaan pertama pada awal segmen berikutnya, demikian menurut Reuters.

Editor: Dani Hamdani 
Dani Hamdani
27-09-2016 10:15