Main Menu

Debat Capres: Diserang Tak Pernah Bayar Pajak, Trump Gelagapan

Dani Hamdani
27-09-2016 11:15

Donald Trump (AFP/Paul Richards/HR02)

New York, GATRAnews - Debat antar Capres Amerika hari ini, Senin malam di New York (Selasa pagi waktu Jakarta) domulai dengan senyuman, jabat tangan dan keduanya saling menyapa dengan menyebut nama depan. Terasa suasana akrab. Namun, seperti dilaporkan Chicago Sun Times, 20 menit kemudian, kandidat parta Republik Donald Trump dan kandidar demokrat Hillary Clinton langsung terlibat debat sengit dan saling interupsi.

 

Debat pertama dari tiga serial debat yang direncanakan antara bekas menteri luar negeri berusia 68 dari Partai Demokrat dan milyuner dari Partai Republik berusia 70 itu menarik perhatian baik dalam negeri bahkan Internasional, enam pekan jelang pilpres 8 November mendatang.

 

Salah satu perdebatan yang membuat Trump gelagapan di Hofstra University, Long Island, New York, ketika mereka berbicara soal pajak pendapatan.

 

Clinton mulai memantik isu ini dengan mengatakan sudah menjadi tradisi para calon presiden mengumumkan laporan pajak pendapatannya. 

  

Namun Trump, yang belum mau mengumumkan pajak pendapatannya, bukan menjawab pertanyaan, tapi balik menyerang dengan isu yang selama ini jadi bahan kampanye soal skandal email Clinton saat menjabat menteri luar negeri.

 

"Saya akan akan mengumumkan pajak pendapatan, walau bertentangan dengan saran penasihat pajak saya, bila dia (Hillary) mengumumkan 33.000 email yang telah dia hapus. Segera setelah dia mengumumkan, saya akan merilis pajak pendapatan saya," ujar Trump.

 

Jawaban itu membuat Hillary melangkah lebih jauh dengan serangan pada Trump.

 

"Pasti ada sesuatu hal sangat penting, bahkan mungkin mengerikan sehingga dia berusaha menyembunyikan dengan ketat," ujar Hillary. 

 

"Mungkin tidak sekaya seperti yang dia bilang. Mungkin dia tidak sedermawan seperti yang dia klaim," ujar Hillary. Dan dia menusukan pisau lebih dalam lagi. "Mungkin dia tidak ingin rakyat Amerika tahu bahwa dia tidak pernah membayar pajak federal," ujar Hillary. 

 

Trump masih tidak menjawab, dia cuma berteriak. "Itulah yang membuat saya cerdas," ujarnya.

 

Trumped-up Trickle-down

 

Masih seputar pajak, mereka juga tampak memiliki pandangan berbeda. Trump memulai dengan rencana menurunkan pajak perusahaan.

 

"Saya akan menurunkan pajak dengan sangat besar, dari 35 pesen menjadi 15 persen untuk perusahaan kecil dan besar. Itu akan menjadi pemicu penciptaan lapangan kerja, seperti yang tidak pernah kita saksikan sejak jaman Ronald Reagen (presiden era 80-an dari Partai Republik). Itu akan menjadi pemandangan sangat indah untu dilihat," ujar Trump.

 

Pernyataan itu diserang oleh Hillary dengan menelurkan istilah trumped-up trickle-down atau kebijakan yang lebih berpihak pada orang kaya. 

 

"Kenyataanya, ini akan menjadi keijakan paling ekstrim, pemangkasan pajak terbesar dalam sejarah untuk masyarakat kaya di negeri ini," ujar Hillary.

 

"Itu namanya trumped-up trickle-down, karena itulah yang akan terjadi. Tidak dengan cara seperti itu kami akan menumbuhkan ekonomi," ujarnya.

 

Hillary menyatakan bahwa hampir semua rakyat Amerika tidak memiliki pengalaman hidup seperti Trump, bahkan termasuk Hillary sendiri.

 

"Dia memulai bisnis dengan meminjam USD 14 juta dari ayahnya, dan dia sangat percaya bahwa semakin besar kamu membantu orang kaya, maka kita akan menjadi masyarakat yang lebih baik, dan segala sesuatunya akan mulai dari itu," kata Hillary.

 

Trump menimpali, "Saya akan melakukan pemangkasan pajak besar-besaran, dan kamu akan menaikan pajak besar-besaran. Selesai itu cerita," teriak Trump seperti dilaporkan Chicago.suntimes.com.

 

Perang antar kandidat presiden ini masih akan berlanjut pada dua debat berikutnya, hingga hari pemilihan pada 8 November mendatang.


Editor: Dani Hamdani 

 

Dani Hamdani
27-09-2016 11:15