Main Menu

Kekecewaan Masyarakat AS atas Terpilihnya Trump

Andya Dhyaksa
10-11-2016 16:16

Donald Trump (AFP/Mandel Ngan/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Pesta Demokrasi terbesar, alias Pemilihan Umum, Amerika Serikat baru saja berlalu pada Rabu dini hari waktu setempat. Pro dan kontra atas terpilihnya Donald J. Trump pun masih mengiringi hingga Rabu malam. Ribuan orang demonstrasi di Los Angles, hingga menutupi beberapa ruas jalan, seperti Spring dan 1st street. Kondisi ini menyebabkan kemacetan di sejumlah tempat. Di Portland, Chicago, Boston dan Philadelphia, kondisi serupa terjadi.

 

“Saya berharap pilihan yang lebih baik,” ucap Vishal Singh, 23, di downtown Los Angles, seperti dikutip New York Times. Peserta lainnya berteriak, “Trump bukan presiden kita!”

 

Seorang warga Brooklyn, New York, Claire Mordowanec menyatakan, “Saya sangat sedih dan marah,” katanya. “Bila saya tidak keluar [turun ke jalan], bagaimana saya bisa menjelaskan kepada anak saya suatu hari bahwa saya tidak turun ke jalan dan mengatakan sesuatu yang benar.”

 

Terpilihnya Trump memang disayangkan banyak pihak. Bukan apa-apa, pria kelahiran 14 Juni 1946 itu memang sering melontarkan pernyataan kontroversial, contohnya adalah pelarangan muslim memasuki AS. “Kita tidak tahu apa yang ada di hati mereka, cinta atau benci,” kata Trump.

 

Selama kampanye, Trump memang kerap kali melempar pernyataan kontroversial. Beberapa calon rencana kebijakannya yang juga kontroversi  persoalan nuklir Korea Utara.

 

Alih-alih menyelesaikan konflik dengan menekan penggunaan senjata nuklir, Trump justru berpendapat Jepang harus menyelesaikan sendiri masalah ini. Maklum, Jepang dan Korea Selatan adalah tetangga Korut yang memiliki implikasi langsung terhadap keberadaan nuklir Pyongyang.

 

Caranya? “Lebih baik mereka bertahan sendiri, termasuk dengan [pengembangan] nuklir,” katanya kepada Chris Wallace dari Fox News. Karena tidak percaya pada jawaban Trump, Chris pun mengulang pertanyaan sama. Jawaban Trump pun tetap sama. “Ya, dengan [pengembangan] nuklir.”

 

Selain soal nuklir, Trump juga berencana membangun dinding di perbatasan Mexico dan AS. Pembangunan ini, menurut Trump, menggunakan uang pemerintah Meksiko. Alasannya, menurut Trump, pemerintah Meksiko seperti sengaja membiarkan para kriminal memasuki AS. Gatra mencoba memaparkan berbagai kebijakan luar Trump dan membandingkannya dengan Hillary Clinton, lawan Trump pada pemilu ini dari Partai Demokrat.

 

Beberapa rencana Kebijakan Luar Negeri Trump saat kampanye: 

Kebijakan:

Korea Utara

Menyerukan agar Jepang mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk pertahanan sendiri alih-alih bergantung pada AS. Berpikir untuk menggunakan Nuklir AS.

 

Cina

Menempatkan militer AS di Asia, khususnya di Laut Cina Selatan untuk menekan Cina memperbaiki hubungan dagang. Kemungkinan menutup mata terhadap keberadaan aliansi di sekitar Laut Cina Selatan.

 

Suriah

Mengindikasikan bekerja dengan Assad dan Putin dalam pertarungan gabungan melawan Isis. Kebijakan itu juga akan memiliki biaya yang berat. Oposisi Suriah dan negara-negara Teluk akan melihatnya sebagai pengkhianatan.

 

Rusia dan Ukraina

Ia menghindari kritik kepada Rusia untuk tindakannya di Ukraina. Ia mengisyaratkan menerima aneksasi Krimea dan mengabaikan temuan intelijen bahwa Moskow berada di balik hacking email partai Demokrat AS.

 

TPP

Penawaran TPP tidak menarik bagi AS. Berjanji mencari penawaran perdagangan bilateral lebih baik. Menghukum negara-negara lain yang dianggap tidak adil dalam melakukan perdagangan dengan pemberian sanksi. Mengabaikan ancaman pembalasan.

 

Eropa dan NATO

NATO adalah usang serta menanyakan komitmen keamanan Eropa. Dia mengatakan akan memeriksa apakah sekutu AS “memenuhi kewajibannya kepada AS”.

 

Sumber: The Guardian


Penulis: Andya Dhyaksa 

Editor: Dani Hamdani 

Andya Dhyaksa
10-11-2016 16:16