Main Menu

China Nilai Trump Seperti Anak-anak Dalam Politik Luarnegeri

Rosyid
14-12-2016 07:09

Donald Trump (AFP/Jay La Prete/HR02)

New York, GATRANews - Belum juga dilantik, Donald Trump sudah mulai menguji kesabaran China.  Akhir pekan lalu Trump mengeluarkan pernyataan bahwa di masa depan Amerika Serikat tidak terikat dengan pemahaman konsep 'satu China',  dengan menganggap Taiwan sebagai bagian dari China.  Selama ini AS menempatkan konsep 'satu China' sebagai jembatan untuk menjalin hubungan harmonis dengan China. Hubungan baik puluhan tahun ini bisa berantakan dengan sikap Trump.


Merespon pernyataan Trump, jurubicara Menlu China mengatakan pemerintahnya 'sangat serius memperhatikan' pernyataan presiden terpilih itu.  Sebelumnya dalam editorial koran Global Times yang mendukung pemerintah mengatakan "Merespon provokasi Trump, Beijing bisa memberi dukungan bahkan dukungan militer kepada musuh-musuh AS."  Dalam versi bahasa China, editorial koran ini bahkan menulis lebih pedas dengan mengatakan Trump bertindak ceroboh seperti anak-anak dalam kebijakan luarnegeri.

China dan Taiwan efektif pecah setelah perang saudara 1949. China tidak pernah mengakui negara Taiwan dan menentang siapa saja yang mengakui kedaulatan negera pulau itu. Pada tanggal 2 Desember, Presiden terpilih Donald Trump menerima telepon dari Presiden Taiwan. Inilahh kontak langsung antara pemimpin AS dengan pemimpin Taiwan sejak 1979. Kabar ini sontak memerahkan teling petinggi China.

Rupanya Trump ingin memanfaatkan situasi ini ntuk menekan China memberi konsesi lebih termasuk pada perdagangan.  "Saya sepenuhnya paham kebijakan Satu China.  Tapi saya tidak tahu apakah  kita harus terikat dengan kebijakan itu. Kecuali jika ada kesepakatan dengan China yang berkaitan dengan hal-hala lain termasuk perdagangan," kata Trump seperti ditulis laman Time.

Langkah Trump ini dinilai super beresiko kata Profesor Nick Bisley, ahli Asia di Universitas La Trobe, Australia. "Ada alasan mengapa politisi lain sebelum Trump tidak pernah menyentuh masalah di masa lalu. Taiwan adalah masalah yang sangat sensitif dan China akan merespon.

Menurut Bisley, sikap angkuh Trump dalam beruusan dari China mungkin terinspirasi dari presiden Ronald Reagen yang memperkuat militer sebelum memulai rangkaian perundingan dengan Russia. Trump dalam kampanyenya pernah mengatakan akan meningkatkan belanja militer sekitar USD 500 miliar. Saat ini belanja militer AS sudah yang terbesar didunia.

"China cerdas tidak menggigit umpan yang dilempar Trump. Karena dia belum jadi Presiden dan kebijakan luar negeri AS tidak berubah," kata Bisley.



Editor: Rosyid


Rosyid
14-12-2016 07:09