Main Menu

Indef: Ada Dua Dampak Kebijakan Trump yang Perlu Dicermati

didi
24-01-2017 11:35

Jakarta, GATRAnews - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan, ada dua hal yang menjadi dampak kebijakan Persiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang perlu dicermati. Pertama, proteksionisme. Proteksi ini bukan sekadar bahan kampanye, namun sudah mulai terlihat dari peringatan Trump kepada produsen otomotif Ford, agar memindahkan pabriknya dari Meksiko ke AS.

“Proteksi juga akan memicu perang dagang dengan Tiongkok. Risiko bagi Indonesia adalah penurunan ekspor bahan baku ke Tiongkok, karena Tiongkok akan mengurangi produksi sebagai antisipasi proteksi Trump,” kata Bhima, dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (24/1).

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia juga terancam kebanjiran produk impor dari Tiongkok akibat barang Tiongkok dihambat masuk AS. “Pasar domestik Indonesia yang menjanjikan bisa jadi pelampiasan eksportir Tiongkok,” tuturnya.

Kedua, soal Trump yang berencana menaikkan belanja infrastruktur, hal itu berimbas pada sisi inflasi yang diprediksi akan naik. Dampaknya, suku bunga Federal Reserve dipastikan akan naik.

"Fed Fund Rate yang meningkat, dolar akan kuat, sehingga rupiah melemah. Dana asing di Indonesia juga terancam keluar dan pulang ke AS. Padahal 38,8% surat utang dikuasai asing, jadi pasar keuangan kita sangat fragile (rentan). Bunga surat utang pemerintah Indonesia terpaksa menjadi lebih mahal. Beban bunga bertambah, apalagi di 2018 adalah puncak buyback atau pembayaran utang SBN (Surat Berharga Negara),” jelasnya.

Menyangkut Tiongkok, Bhima menilai negara tersebut akan sangat terpukul dengan kebijakan baru Trump. Oleh karena itu, dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengkritik Trump yang dinilainya kontraglobalisasi. Proyeksi pertumbuhan Tiongkok akibat kebijakan Trump, bisa di bawah 6,7% atau tidak bergerak dibanding tahun 2016.

Alhasil, produksi Tiongkok akan melambat, sembari Tiongkok penetrasi ke Asia Tenggara termasuk ke Indonesia. Adapun, dampak untuk Indonesia, ekspor masih tertekan sementara angka impor dari Tiongkok akan meningkat.

Bhima melihat, saat ini peta geoekonomi berubah. Hal itu ditandai dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), kebijakan ekonomi Trump yang cenderung protektif, dan rencana referendum di Italia. Semua hal itu, menurutnya, menjadi bukti bahwa negara maju lebih melihat ke dalam dibanding melihat ke luar.

Terkait hal itu, lanjutnya, meski Trump mungkin membenci produk Tiongkok dan buruh dari Meksiko, tapi tidak semua segmen akan terkena dampak.

"Untuk industri otomotif dan komoditas akan berdampak, tapi tidak untuk barang lain, misalnya elektronika, tekstil, dan alas kaki, yang tidak mungkin dibuat di Amerika karena tenaga kerja Indonesia lebih kompetitif. Itu peluang bagi Indonesia untuk membuka kerjasama bilateral dengan Trump. Tapi nampaknya dibanding mempererat hubungan dengan AS, Indonesia justru ingin terkesan mendekatkan diri dengan Tiongkok. Padahal masih ada ceruk potensi dagang dengan AS yang bisa dimanfaatkan,” paparnya.

AS, sambungnya tetap membutuhkan Indonesia sebagai mitra dagang penting. Dalam APEC dan G-20, posisi Indonesia pun setara.

Bhima pun menilai, sikap AS dibawah Trump diprediksi tidak akan berubah secara signifikan dengan Indonesia. Kerja sama perdagangan, keuangan, dan investasi pasti terus berlanjut. Terlebih saat ini soal relaksasi ekspor minerba memberi angin bagi industri tambang AS di Indonesia.

"Kunjungan pertama Trump seharusnya ke Indonesia. Walaupun dari segi politik kurang diterima, tapi dari segi ekonomi bisa mempererat kerjasama,” tuturnya.


Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

didi
24-01-2017 11:35