Main Menu

Plt Jaksa Agung AS Bersumpah Bela Kebijakan Trump Soal Imigran

Rosyid
31-01-2017 16:19

Washington, GATRAnews - Pelaksana tugas (Plt) Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Dana Boente bersumpah pada Senin (30/01) waktu setempat, akan membela perintah imigrasi kontroversial Presiden Donald Trump. Beberapa jam sebelumnya, pelaksana tugas Jaksa Agung Sally Yates dipecat karena menentang perintah itu.

Sally Yates yang ditunjuk Barack Obama masih menjabat sambil menunggu Senat memberi lampu hijau atas calon Jaksa Agung pilihan Trump, Jeff Sessions. Yates memerintahkan para jaksa di Kementerian Kehakiman untuk menolak dekrit kontroversial Trump mengenai larangan masuk bagi imigran.

"Pelaksana tugas jaksa agung, Sally Yates, telah mengkhianati Kementerian Kehakiman dengan menolak menjalankan perintah hukum  yang dirancang untuk melindungi warga negara Amerika Serikat," menurut pernyataan Gedung Putih seperti dilansir AFP.  "Presiden Trump telah mencopot Yates dari jabatannya dan kemudian menunjuk Dana Boente, jaksa Distrik Timur Virginia, sebagai jaksa agung sementara hingga Senator Jeff Sessions memperoleh restu Senat," lanjut pernyataan itu.

Sikap berbeda yang diambil Yates terungkap dari surat yang ditujukan kepada pegawai departemen Kehakiman. Dalam surat yang dipublikasikan berbagai media AS, Yates menyebut bahwa perintah Trump telah digugat di pengadilan. Bahkan, seorang Hakim memutuskan untuk sementara menunda deportasi bagi pemegang visa AS dari tujuh negara sebagaimana diperintahkan Presiden Trump.

"Tanggung jawab saya adalah untuk memastikan bahwa posisi Departemen Kehakiman tidak hanya bisa bertahan secara hukum, tapi juga mendapat informasi tentang pandangan terbaik kita dalam hukum," tulisnya.

"Saya bertanggung jawab memastikan posisi yang kita ambil di pengadilan tetap konsisten dengan kewajiban institusi ini untuk mencari keadilan dan berpijak pada sesuatu yang benar."


Sikap Yates soal kebijakan pelarangan warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim yang diterbitkan Presiden Trump juga menuai reaksi dari ratusan diplomat AS.

Dalam satu 'surat kawat', para diplomat itu mengkritik keputusan Trump. Mereka menilai pembatasan imigrasi yang dilakukan Trump tidak membuat AS lebih aman, tidak menunjukkan AS yang sebenarnya, dan akan mengirimkan pesan yang salah kepada dunia Muslim.

Namun, sekretaris pers Gedung Putih, Sean Spicer, balik mengkritik para diplomat AS yang mengirimkan surat tersebut.

"Ada 325.000 orang dari berbagai negara mendarat di bandara-bandara kita dalam 24 jam, dan kita membahas 109 orang dari tujuh negara yang diidentifikasi pemerintahan Obama. Dan para birokrat karier ini punya masalah dengan hal itu? Saya pikir mereka seharusnya sepaham dengan program ini atau mereka bisa keluar," kata Spicer seperti dilansir BBC.




Editor: Rosyid

Rosyid
31-01-2017 16:19