Main Menu

Trump Berencana Masukan Pengawal Revolusi Iran sebagai Organisasi Teroris

Dani Hamdani
08-02-2017 16:46

Jakarta, GATRANews - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk menyebut Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Menurut Reuters, dengan mengotakkan lembaga militer dan politik paling kuat di Iran sebagai kelompok teroris maka konsekwensinya akan kian memperumit situasi politik di kawasan Timur Tengah.

 

Pembahasan soal status Pengawal Revolusi Iran ini, menurut kantor berita Reuters, diutarakan oleh sejumlah pejabat AS yang mengetahui proposal kebijakan kontroversial terbaru dari pemerintahan Trump itu.


Para pejabat itu mengatakan lembaga-lembaga pemerintah AS sudah mengonsultasikan proposal semacam itu yang jika diterapkan akan dilanjutkan dengan menerapkan sanksi individual dan kelompok yang berkaitan dengan IRGC.



IRGC lebih dari sekadar aparatur keamanan Iran yang paling berkuasa, namun juga mengendalikan bagian besar perekonomian Iran dan berpengaruh besar terhadap sistem politik Iran.


Reuters sendiri belum melihat salinan dokumen proposal rancangan Keputusan Presiden yang diunjukkan kepada Departemen Luar Negeri agar mempertimbangkan menyebut IRGC sebagai kelompok teroris. Belum jelas juga apakah Trump akan menandatangani rancanan Keppres baru ini.


Gedung Putih menolak mengomentari masalah ini, sedangkan Iran membantah terlibat dalam terorisme.

 

Pekan lalu Reuters melaporkan bahwa para pejabat pemerintahan Trump tengah membahas apakah Ikhwanul Muslimin--partai politik di Mesir-- juga akan disebut organisasi teroris, namun kabarnya pembahasan Ikhwanul ini dihentikan.


Menurut Reuters, dengan mengotakkan lembaga militer dan politik paling kuat di Iran sebagai kelompok teroris, maka Trump akan menuai efek destabilisasi, termasuk makin meruncingkan konflik di mana AS dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah menuding Iran sebagai biang keladinya. Iran sendiri membantah tuduhan mereka.


Langkah AS kepada Iran itu juga akan memperumit perang AS melawan ISIS di Irak di mana milisi Syiah dukungan Iran dan dibekingi IRGC berandil besar dalam mengeliminasi ISIS di Irak. 


Para penasihat kubu garis keras dalam pemerintahan Trump di Gedung Putih telah mendesak sang presiden untuk meningkatkan sanksi kepada Iran sejak pemerintahan baru AS ini terbentuk.


Sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk menyukai pendirian keras Trump terhadap Iran yang selama ini mereka tuding kerap mengintervensi kawasan Timur Tengah, demikian Reuters.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
08-02-2017 16:46