Main Menu

Trump Hentikan Operasi Rahasia CIA Mendongkel Presiden Suriah

Dani Hamdani
20-07-2017 17:34

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (AFP/Nicholas Kamm/HR02)

Washington, GATRANews - Akhirnya terbuka juga cerita, tangan-tangan Agen Rahasia Amerika (CIA), berada di balik kelompok pemberontak bersenjata di Suriah yang mau menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal ini diketahui setelah dua pejabat AS seperti dikutip kantor berita Reuters, menyatakan Pemerintahan Presiden Donald Trump telah memutuskan untuk menangguhkan program rahasia CIA tersebut.



Menurut salah satu pejabat AS tadi, langkah itu adalah bagian dari upaya pemerintahan Trump memperbaiki hubungan dengan Rusia yang bersama Iran telah menyangga pemerintahan Assad dalam perang saudara selama enam tahun.


Program CIA ini bermula pada 2013 sebagai bagian dari usaha pemerintahan Barack Obama dalam menggulingkan Assad, namun program ini tak banyak mencapai kemajuan.


Harian Washington Post menjadi media pertama yang melaporkan penangguhan program rahasia CIA itu.


Keputusan itu diambil oleh Penasihat Keamanan Nasional H.R. McMaster dan Direktur CIA Mike Pompeo setelah berkonsultasi dengan para pejabat eselon di bawahnya dan sebelum pertemuan Trump pada 7 Juli dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20 di Jerman.


Kedua pejabat itu menyatakan langkah ini bukan bagian dari negosiasi AS-Rusia dalam menciptakan gencatan senjata di Suriah barat daya.


Salah satu pejabat menyatakan AS tidak mencari konsesi besar mengingat Assad sedang kuat mencengkeram Suriah kendati tidak seluruh wilayah Suriah. "Namun keputusan ini adalah isyarat bahwa pemerintahan Trump menginginkan peningkatan hubungan dengan Rusia," ujarnya seperti dilaporkan Antara.


Trump saat ini sedang ditekan oleh penyelidikan dugaan intervensi Rusia dalam Pemilu AS 2016 dan kolusinya dengan tim kampanye Trump.


Sebelum menjadi presiden, Trump sudah menyatakan akan mengakhiri dukungan kepada kelompok pemberontak Tentara Suriah Merdeka (FSA), dengan mengalihkan prioritas kepada perang melawan ISIS.


Editor: Dani Hamdani

Dani Hamdani
20-07-2017 17:34