Main Menu

Pentingnya Baja bagi Ekonomi AS 

Sandika Prihatnala
11-03-2018 22:12

Industri baja di Amerika ( REUTERS/Rebecca Cook/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Baja dan aluminium impor menopang beragam industri AS selama bertahun-tahun. Alih-alih mengurangi impor dengan tarif baru, AS dihadapkan pada ketidaksiapan industri dalam negeri.

 

Selama hampir satu abad pasca-revolusi industri kedua di akhir abad ke-19, tambang biji besi di Minnesota menjadi pemasok utama industri baja Amerika Serikat. Produksi baja di kawasan itu tak tertandingi oleh produk baja mana pun, termasuk Brasil dan Australia. 

Sayang, pada kenyataannya produk baja AS itu tidak beroperasi maksimal seperti yang diungkap dalam studi James A. Schmitz, seorang ekonom. Pada awal 1980-an, karena biaya transportasi menurun, produk baja dari luar, seperti Brasil, mulai masuk pasar. Harganya jauh lebih rendah daripada produk lokal para penambang di Minnesota. Pada titik inilah, persaingan memperebutkan pasar baja di dalam AS dimulai. 

Sejak saat itu pasar dalam negeri AS seperti kebanjiran produk asing. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah masuknya baja dari Cina. Sebagai salah satu pemasok baja terbesar selain Kanada, Korea Selatan, Brasil dan Meksiko, Cina paling disorot AS karena produknya terbilang murah. Industri baja AS pun kolaps akibat kebanjiran baja Cina. 

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump yang gelisah atas keadaan itu pun memikirkan sebuah rencana yang kini sedang dipergunjingkan banyak negara. Trump berencana menaikkan tarif bea masuk impor baja asing sebesar 25% dan aluminium sebesar 10%. 

Rencana itu pun memicu reaksi yang berujung pada kekhawatiran terjadinya perang dagang.

''Saya ingin menghindarinya (perang dagang), tapi tidak menjamin itu tidak terjadi,'' katanya kepada Reuters, beberapa waktu lalu. 

Kegelisahan Trump memang masuk akal. Kedua jenis logam (baja dan aluminium) merupakan bahan baku penting bagi industri AS. Kedua komoditas itu menjadi bahan baku utama produk otomotif, pesawat terbang, peralatan rumah tangga, industri konstruksi, jaringan pipa dan kabel, serta kaleng makanan dan minuman. 

Sepertiga dari 100 juta ton baja yang dibutuhkan dalam industri AS tiap tahun, bahan bakunya berasal dari impor. Impor juga dilakukan untuk memenuhi 90% dari 5,5 juta ton alumunium kebutuhan industri. Selama bertahun-tahun, impor disebutkan menjadi biang keladi berbagai masalah ekonomi, seperti penutupan pabrik. 

Itulah nasib Betlehem Steel, sebuah perusahaan baja yang bermarkas di Pennsylvania. Pabrik berkapasitas 16 juta ton per tahun itu ditutup pada 2001. Perusahaan kedua terbesar setelah US Steel ini bangkrut kemudian dijual kepada International Steel Group pada 2003. 

Padahal, pada masa kejayaannya, Bethlehem Steel merupakan salah satu perusahaan pembuat kapal terbesar di dunia dan menjadi salah satu simbol industri Amerika. Sejarah Amerika mencatat, industri baja selalu menjadi penopang ekonomi penting ketika negara ini terlibat dalam perang dunia atau terjerat krisis ekonomi. Industri baja menyediakan lapangan kerja yang luas. 


Sandika Prihatnala

Untuk tulisan lebih lengkap bisa dibaca di Majalah Gatra terbaru edisi 19/XXIV yang terbit Kamis (8/3).

Sandika Prihatnala
11-03-2018 22:12